Tiga Musim dan Kita

Musim semi tentu sudah hampir berlalu dan di tanggal-tanggal mendatang -sederetan angka-angka yang akan begitu berarti- musim panas menjelang.

Nanti, di suatu hari di musim panas, kita berdua akan berjalan beriringan di tepi pantai dengan tangan saling terjalin layaknya sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Kita akan membiarkan air laut yang hangat menjilat jemari kaki, bahkan kita akan mencoba menenggelamkan diri dan tertawa karenanya.

Atau mungkin di suatu sore di musim panas, aku akan menghidangkan segelas jus buah segar untukmu di teras. Lalu kita akan berbicara, atau hanya sekadar menatap tanpa kata-kata. Aku mungkin akan jarang menghidangkan teh dan kopi untukmu. Kau pasti tahu teh dan kopi tidak terlalu baik untuk ginjal. Ah, aku peduli dengan kesehatanmu tentu. Aku akan menghidangkannya sesekali saja, kalau kau suka.

Di malam hari saat udara begitu pengap, kau akan mencoba membetulkan kipas angin atau AC di dalam kamar. Kamar kita berdua. Lalu aku akan memperhatikan kamu dan bersyukur bahwa kali ini kamu berhasil benar-benar membetulkan peralatan elektronik, bukan sekadar membongkarnya seperti kemarin-kemarin.

Hari-hari musim panas yang penuh gairah akan berlalu, lalu musim gugur datang perlahan. Angin mulai bertiup, cukup dingin, namun kita akan berlindung di balik tembok-tembok rumah yang hangat. Di malam yang cerah mungkin kita akan menikmati malam terang bulan di halaman rumah, dengan beberapa anak. Anak-anak kita.

Kita akan membiarkan mereka bermain di pekarangan, sambil mengawasi mereka agar tidak bermain terlalu jauh. Kita pasti akan memastikan bahwa mereka tidak terancam bahaya dari binatang-binatang liar yang berkeliaran di luar rumah. Lalu kita berdua akan berbicara mengenang hari-hari di musim panas yang telah lalu.

Kemudian suatu pagi, butir salju pertama turun dari langit. Anak-anak kita sudah berada jauh di luar rumah. Mereka sudah bertumbuh, kuat dan hebat. Kita kembali berdua di rumah, berselimut tebal, dan mungkin akan merasa payah untuk sekadar bangkit dari tempat tidur, namun kita akan bahagia. Aku tahu kita akan bahagia.

Lalu salah satu dari kita pergi di suatu hari penuh badai. Siapa pun yang tertinggal, kamu atau aku, tentu sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Namun musim-musim yang telah lalu sudah menguatkan kita, bukan? Cukup tiga musim yang kita habiskan bersama. Lagi pula tidak perlu serakah untuk mengecap musim berikutnya. Biarlah orang lain saja, biarlah anak-anak kita saja.

Nanti begitu musim dingin hampir habis, yang tertinggal pasti akan menyusul melewati badai dan kita akan bertemu lagi. Ya, kita pasti bertemu lagi. Di suatu tempat tanpa musim dan kita akan abadi di sana.

---

11.2.12.
Untuk kamu, kita, dan anak-anak kita nanti.
Siapapun kamu, di manapun kamu sekarang (@lidyapawestri, dys-to-pia.blogspot.com).

Gaung

Sejauh ini saya cukup kecewa dengan orang-orang di sekeliling saya. Bukan cuma kepada mereka, tetapi juga pada diri saya sendiri.

Saya sedih. Kenapa hal yang awalnya dibanggakan berubah menjadi sesuatu yang tidak punya arti apa-apa?

Saya orang egois yang menginginkan segala sesuatunya berjalan sempurna. Dan masalahnya di sini adalah saya tidak sempurna. Tidak ada orang yang sempurna!! Saya, anda, dan mereka. Tidak ada satupun yang sempurna!

Karena hal itulah saya membutuhkan mereka. Menggantungkan harapan saya pada mereka. Berharap mereka punya keinginan yang sama dengan saya.

Saya hanya ingin membuat sesuatu yang besar. Tapi saya tau bahwa saya tidak bisa melakukan semua ini sendirian. Saya butuh mereka karena hanya mereka yang bisa melengkapi semua ini jadi sempurna. Keinginan saya dan mereka, tadinya.

Tapi kenapa hal itu tidak bisa jadi sempurna? Padahal ada saya dan mereka?

Karena mereka tidak mengingnkannya? Atau mereka sebenarnya tidak pernah peduli akan hal ini? Atau mungkin sayalah yang salah di sini! Saya yang tidak mampu memimpin mereka? Ahh, saya tau, mereka menggampangkan semuanya, hal ini dan juga saya.

Saya terlalu menggantungkan harapan besar pada mereka dan sekarang saya di sini, terpuruk dengan sebongkah besar kekecewaan yang membuat segala pandangan saya berubah.

Saya harus jadi sempurna, dengan apapun caranya. Saya tidak mau lagi mengiba seperti orang bodoh. Saya harus jadi pintar. Saya tidak mau lagi bergantung pada orang lain. Saya harus bisa melakukan segalanya SENDIRI!!

Sehingga suatu hari nanti saya tidak perlu lagi merasa kecewa. Saya tidak perlu lagi merasa bodoh dan tidak berguna. Tanpa siapapun saya bisa melakukan semuanya, sendirian!!

Sekarang saya di sini dan saya sempurna. Saya bisa melakukannya segalanya sendirian. Saya tidak butuh bantuan orang lain untuk memasang tali di ventilasi yang nantinya menjadi tempat saya menggantungkan diri.

11 April 2010
untuk yang tercinta, yang mati melawan obsesi!

Hi..


Hi..
Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri. Nama saya... oke, sepertinya gak perlu terlalu lengkap. Saya cukup melengkapi perkenalan kedua teman saya yang sebelumnya sudah memposting tulisan di bawah ini.

Saya adalah salah satu dari tiga wanita cantik yang ada di gambar profil di pojok kanan atas blog.
Saya sekarang sudah bekerja di salah satu media di daerah Jakarta Selatan, di sebuah media yang pembahasan utamanya adalah sesuatu yang saat ini masih terlihat jauh di mata saya. Entah bagaimana jika lima tahun lagi :p

Saya (belajar) bersyukur bisa bekerja disini (ditempat saya bekerja). Meskipun menyita waktu dan (sedikit) tenaga, hingga membuat saya gak mampu untuk sekedar melanjutkan coretan tangan saya yang (sedikit) banyak terbengkalai, tapi saya sangat bersyukur.

Untungnya, saya punya teman-teman yang hobi menulis, seperti @dee_tary dan  @lidyapawestri :*
Ibarat layangan, bisa dibilang mereka itu adalah benang gelasan buat saya. Mereka yang memacu saya untuk menulis (lagi kalo saya hampir lupa) dan mereka juga yang menarik saya jika saya sudah terlalu jauh meninggalkan dunia tulis menulis (meskipun pekerjaan saya menuntut saya untuk menulis).
Kebetulan juga saya punya beberapa pembaca, yang entah senang atau memang iseng baca-baca blog saya. Tapi jujur, mereka juga salah satu penyemangat saya untuk terus menulis.

Bisa diambil kesimpulan, perkataan saya diatas sangat memberi kesan bahwa saya adalah seorang penulis yang handal.
Etdaghhhh, boro-boro. Tulisan saya itu bisa (amat sangat bisa) dibilang biasa, standar. Tapi saya akan berusaha supaya jadi lebih baik lagi nantinya.

Entahlah, saya yakin suatu hari nanti menulis akan menjadi suatu nilai besar dan kebanggaan buat saya.

Sekian perkenalan dari saya. Selamat menikmati cerita-cerita kami selanjutnya :)
Diberdayakan oleh Blogger.