Selamat Berbahagia




kriiing kriiing kriiing

Bunyi jam beker itu membangunkanku. Biasanya aku tidak pernah menggunakan jam itu, hanya karena akhir-akhir ini aku selalu bangun kesiangan, jam tua itu pun aku gunakan juga. Jam beker yang usianya sama denganku merupakan pemberian mendiang kakekku, dia kolektor jam. Setelah beliau wafat aku diwarisi jam beker itu.

Hari minggu yang cerah ini bisa dibilang hari istimewa bagiku. Aku akan bertemu dengannya lagi. Jam dua, ditempat yang sama saat aku pertama kali bertemu dengannya empat tahun yang lalu.


Semalam

"Plis, angkat telfonnya, Anisa!" ucapku gelisah, tak sabar ingin mendengar suaramu.
"Siaaal!" erangku.

Dia tidak mengangkat telfonku. Aku ingin mendengar suaramu lagi. Aku merindukanmu Anisa, tahukah kamu sekarang aku seperti orang gila? berjalan kesana kemari padahal aku sedang berada dikamar sendiri.

***

Seminggu yang lalu

"Nis," sapaku.
"Ya?" jawabnya.
"Aku akan melamarmu," ucapku sengau.
Dia hanya diam sambil memandangi botol saus di atas meja makan kami. Ku lihat kedua matanya  berkaca-kaca, genangan air memenuhi matanya yang indah.

Satu Bulan yang lalu
"Nis," sapaku.
"Ya?" jawabnya.
"Aku mencintaimu, aku ingin selalu berada disamping mu,"
Kamu hanya tersenyum. Senyuman yang selalu membuatku mabuk kepayang.

Setahun yang lalu
"Ar, aku mencintaimu, dan akan selalu mencintamu."
"Aku juga, Nis"


Dua tahun yang lalu
"Ar," dia memanggilku.
"ya, Nis?" jawabku.
"Kapan, kamu akan melamarku?" tanyanya bergetar.
"Pasti aku akan melamarmu nis. Kalau sudah kudapat gelarku, aku akan langsung menemui orang tuamu, kamu yang sabar nunggu aku ya," jelasku.
Sepertinya pernyataanku bukanlah yang ia inginkan. Wajahnya kini berubah sendu.

Tiga tahun yang lalu
"Ar," panggilnya.
"Ya, Nis, ada apa?" jawabku.
"Kapan, kamu akan melamarku?" ungkapnya serius.
"Kalau saat ini aku belum bisa, Nis," 
"Kenapa? kamu bilang kamu mencintaiku?"
"Iya, tetapi menikah bukan hanya sekedar urusan kita saja. Banyak yang harus aku persiapkan, contohnya pendidikanku, pekerjaanku, aku enggak mau kamu nikah sama aku tapi kamu malah jadi susah," jelasku.
"Susah senang kita tanggung bersama Ar,"
"Ya aku tahu, tapi aku tidak ingin membuat hidupmu menderita,"
Dia diam.
"Aku pasti akan menikahimu Nis, pasti!"

Empat tahun yang lalu

"Arya, kenalin ini namanya Anisa," ujar temanku.
"Arya," kataku sambil mengulurkan tangan, memberi salam.
Dia tidak menyambut uluran tanganku, malah ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia memberi salam dengan cara yang berbeda.
Dia bukan perempuan sembarangan, aku yakin dia perempuan suci. Pertemuan singkat yang mampu mengubah hidupku menjadi lebih berwarna. Aku jatuh cinta.

***

Jam satu tepat, aku sudah siap bertemu denganmu Nis. Ku kenakan pakaian terbaik, demi menambut pertemuan kita. Pertemuan paling istimewa. Aku juga membawakanmu hadiah, aku yakin pasti kamu suka dengan pilihanku ini.

Selama perjalanan, tak bosan-bosannya aku mendengarkan alunan musik kesukaanmu padahal dulu aku paling muak mendengarkan lagu ini. Kamu menyukai instrumennya, kamu bilang semua lagu-lagunya dapat menenangkan hati. Tetapi bagiku, tanpa lagu ini pun suaramu dapat menenangkan hatiku.

Akhirnya sampailah aku di tempat tujuan. Banyak orang berlalu lalang, membuatku agak sedikit sulit mencarimu. Kedua mataku terus mengawasi kehadiranmu. Tepat di ujung, di tempat yang lebih tinggi aku bisa melihatmu. Kamu memakai gaun dan jilbab merah marun, warna kesukanmu. Kamu terlihat semakin cantik dengan gaun itu. Betapa pesonamu memancar jelas diantara orang-orang ini. Tuhan, bidadari yang kau ciptakan ini memang sempurna.

Aku sudah tak sabar ingin melihatmu lebih dekat, mendengar suaramu lebih jelas. Selangkah demi selangkah kususuri jalan yang memberi jarak diantara kita. Kini, aku sudah berada di hadapanmu, perempuan yang paling kucintai setelah ibuku. Kamu tersenyum kepadaku, melihatku dengan mata berkaca-kaca. Ingin rasanya aku memelukmu, menghapus air matamu yang aku yakin sebentar lagi akan membasahi pipimu. Sayangnya, aku tidak bisa menyentuhmu lagi. Nyatanya, kami hanya bersalaman, kamu tidak menakupkan tangan di dada.

Sekarang giliran mataku yang berkaca-kaca. Aku harus secepatnya pergi dari tempat ini, sebelum Anisa melihat pipiku basah. Rasanya sakit sekali harus mengungkapkannya, tetapi mau tidak mau aku harus mengungkapkannya.

"Selamat berbahagia ya Nis," jantungku semakin berdegup kencang.
"Terima kasih Ar," ungkapnya sambil tersenyum.

Cepat-cepat aku meninggalkannya, meninggalkan semua kenangan indah bersamanya. Maaf, Anisa aku belum bisa memenuhi janjiku untuk menikahimu. Mungkin kamu akan lebih berbahagia bersama seseorang yang kini berdiri disampingmu. Orang yang resmi menjadi, Suamimu.


John Mayer - Half of My Heart

I was born in the arms of imaginary friends
free to roam, made a home out of everywhere I've been
then you come crashing in, like the realest thing
trying my best to understand all that your love can bring

oh half of my heart's got a grip on the situation
half of my heart takes time
half of my heart's got a right mind to tell you
that I can't keep loving you (can't keep loving you)
oh, with half of my heart

I was made to believe i'd never love somebody else
I made a plan, stay the man who can only love himself
lonely was the song I sang, 'til the day you came
Showing me another way and all that my love can bring

oh half of my heart's got a grip on the situation
half of my heart takes time
half of my heart's got a right mind to tell you
that I can't keep loving you (can't keep loving you)
oh, with half of my heart
with half of my heart

your faith is strong
but I can only fall short for so long
Down the road, later on
you will hate that I never gave more to you than half of my heart
but I can't stop loving you
I can't stop loving you [x3]
but I can't stop loving you with half of my...

half of my heart
half of my heart

half of my heart's got a real good imagination
half of my heart's got you
half of my heart's got a right mind to tell you
that half of my heart won't do

half of my heart is a shotgun wedding to a bride with a paper ring
And half of my heart is the part of a man who's never truly loved anything

half of my heart [x6]

Tiga Musim dan Kita

Musim semi tentu sudah hampir berlalu dan di tanggal-tanggal mendatang -sederetan angka-angka yang akan begitu berarti- musim panas menjelang.

Nanti, di suatu hari di musim panas, kita berdua akan berjalan beriringan di tepi pantai dengan tangan saling terjalin layaknya sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Kita akan membiarkan air laut yang hangat menjilat jemari kaki, bahkan kita akan mencoba menenggelamkan diri dan tertawa karenanya.

Atau mungkin di suatu sore di musim panas, aku akan menghidangkan segelas jus buah segar untukmu di teras. Lalu kita akan berbicara, atau hanya sekadar menatap tanpa kata-kata. Aku mungkin akan jarang menghidangkan teh dan kopi untukmu. Kau pasti tahu teh dan kopi tidak terlalu baik untuk ginjal. Ah, aku peduli dengan kesehatanmu tentu. Aku akan menghidangkannya sesekali saja, kalau kau suka.

Di malam hari saat udara begitu pengap, kau akan mencoba membetulkan kipas angin atau AC di dalam kamar. Kamar kita berdua. Lalu aku akan memperhatikan kamu dan bersyukur bahwa kali ini kamu berhasil benar-benar membetulkan peralatan elektronik, bukan sekadar membongkarnya seperti kemarin-kemarin.

Hari-hari musim panas yang penuh gairah akan berlalu, lalu musim gugur datang perlahan. Angin mulai bertiup, cukup dingin, namun kita akan berlindung di balik tembok-tembok rumah yang hangat. Di malam yang cerah mungkin kita akan menikmati malam terang bulan di halaman rumah, dengan beberapa anak. Anak-anak kita.

Kita akan membiarkan mereka bermain di pekarangan, sambil mengawasi mereka agar tidak bermain terlalu jauh. Kita pasti akan memastikan bahwa mereka tidak terancam bahaya dari binatang-binatang liar yang berkeliaran di luar rumah. Lalu kita berdua akan berbicara mengenang hari-hari di musim panas yang telah lalu.

Kemudian suatu pagi, butir salju pertama turun dari langit. Anak-anak kita sudah berada jauh di luar rumah. Mereka sudah bertumbuh, kuat dan hebat. Kita kembali berdua di rumah, berselimut tebal, dan mungkin akan merasa payah untuk sekadar bangkit dari tempat tidur, namun kita akan bahagia. Aku tahu kita akan bahagia.

Lalu salah satu dari kita pergi di suatu hari penuh badai. Siapa pun yang tertinggal, kamu atau aku, tentu sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Namun musim-musim yang telah lalu sudah menguatkan kita, bukan? Cukup tiga musim yang kita habiskan bersama. Lagi pula tidak perlu serakah untuk mengecap musim berikutnya. Biarlah orang lain saja, biarlah anak-anak kita saja.

Nanti begitu musim dingin hampir habis, yang tertinggal pasti akan menyusul melewati badai dan kita akan bertemu lagi. Ya, kita pasti bertemu lagi. Di suatu tempat tanpa musim dan kita akan abadi di sana.

---

11.2.12.
Untuk kamu, kita, dan anak-anak kita nanti.
Siapapun kamu, di manapun kamu sekarang (@lidyapawestri, dys-to-pia.blogspot.com).

Gaung

Sejauh ini saya cukup kecewa dengan orang-orang di sekeliling saya. Bukan cuma kepada mereka, tetapi juga pada diri saya sendiri.

Saya sedih. Kenapa hal yang awalnya dibanggakan berubah menjadi sesuatu yang tidak punya arti apa-apa?

Saya orang egois yang menginginkan segala sesuatunya berjalan sempurna. Dan masalahnya di sini adalah saya tidak sempurna. Tidak ada orang yang sempurna!! Saya, anda, dan mereka. Tidak ada satupun yang sempurna!

Karena hal itulah saya membutuhkan mereka. Menggantungkan harapan saya pada mereka. Berharap mereka punya keinginan yang sama dengan saya.

Saya hanya ingin membuat sesuatu yang besar. Tapi saya tau bahwa saya tidak bisa melakukan semua ini sendirian. Saya butuh mereka karena hanya mereka yang bisa melengkapi semua ini jadi sempurna. Keinginan saya dan mereka, tadinya.

Tapi kenapa hal itu tidak bisa jadi sempurna? Padahal ada saya dan mereka?

Karena mereka tidak mengingnkannya? Atau mereka sebenarnya tidak pernah peduli akan hal ini? Atau mungkin sayalah yang salah di sini! Saya yang tidak mampu memimpin mereka? Ahh, saya tau, mereka menggampangkan semuanya, hal ini dan juga saya.

Saya terlalu menggantungkan harapan besar pada mereka dan sekarang saya di sini, terpuruk dengan sebongkah besar kekecewaan yang membuat segala pandangan saya berubah.

Saya harus jadi sempurna, dengan apapun caranya. Saya tidak mau lagi mengiba seperti orang bodoh. Saya harus jadi pintar. Saya tidak mau lagi bergantung pada orang lain. Saya harus bisa melakukan segalanya SENDIRI!!

Sehingga suatu hari nanti saya tidak perlu lagi merasa kecewa. Saya tidak perlu lagi merasa bodoh dan tidak berguna. Tanpa siapapun saya bisa melakukan semuanya, sendirian!!

Sekarang saya di sini dan saya sempurna. Saya bisa melakukannya segalanya sendirian. Saya tidak butuh bantuan orang lain untuk memasang tali di ventilasi yang nantinya menjadi tempat saya menggantungkan diri.

11 April 2010
untuk yang tercinta, yang mati melawan obsesi!

Hi..


Hi..
Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri. Nama saya... oke, sepertinya gak perlu terlalu lengkap. Saya cukup melengkapi perkenalan kedua teman saya yang sebelumnya sudah memposting tulisan di bawah ini.

Saya adalah salah satu dari tiga wanita cantik yang ada di gambar profil di pojok kanan atas blog.
Saya sekarang sudah bekerja di salah satu media di daerah Jakarta Selatan, di sebuah media yang pembahasan utamanya adalah sesuatu yang saat ini masih terlihat jauh di mata saya. Entah bagaimana jika lima tahun lagi :p

Saya (belajar) bersyukur bisa bekerja disini (ditempat saya bekerja). Meskipun menyita waktu dan (sedikit) tenaga, hingga membuat saya gak mampu untuk sekedar melanjutkan coretan tangan saya yang (sedikit) banyak terbengkalai, tapi saya sangat bersyukur.

Untungnya, saya punya teman-teman yang hobi menulis, seperti @dee_tary dan  @lidyapawestri :*
Ibarat layangan, bisa dibilang mereka itu adalah benang gelasan buat saya. Mereka yang memacu saya untuk menulis (lagi kalo saya hampir lupa) dan mereka juga yang menarik saya jika saya sudah terlalu jauh meninggalkan dunia tulis menulis (meskipun pekerjaan saya menuntut saya untuk menulis).
Kebetulan juga saya punya beberapa pembaca, yang entah senang atau memang iseng baca-baca blog saya. Tapi jujur, mereka juga salah satu penyemangat saya untuk terus menulis.

Bisa diambil kesimpulan, perkataan saya diatas sangat memberi kesan bahwa saya adalah seorang penulis yang handal.
Etdaghhhh, boro-boro. Tulisan saya itu bisa (amat sangat bisa) dibilang biasa, standar. Tapi saya akan berusaha supaya jadi lebih baik lagi nantinya.

Entahlah, saya yakin suatu hari nanti menulis akan menjadi suatu nilai besar dan kebanggaan buat saya.

Sekian perkenalan dari saya. Selamat menikmati cerita-cerita kami selanjutnya :)

Martabak Manis



"Bang, pesen martabak keju cokelatnya satu yah, yang garing," pesanku pada bang Komar, penjual Martabak langgananku.

Aku paling suka Martabak, apalagi yang rasa keju. Kue asal Mesir ini menjadi favoritku sejak aku berumur 4 tahun. Awal mula aku kenal kue ini juga dari Om ku. Jadi, dulu sebelum Tante --adik dari ibu- menikah dengan Om, Dia selalu membelikan Martabak Keju kalo lagi ngapelin Tante. Samar-samar kuingat, untuk pertama kalinya Tante mengenalkan pacarnya ke nenek. Om membawakan Martabak Spesial isi keju. Bukan hanya tante yang dibuat jatuh hati sama Om, tapi nenek juga, malah ibu juga ikut jatuh hati sama tingkah lakunya. Om dengan manisnya juga membuatku jatuh hati, dia memberikanku Martabak itu. Semenjak Om menyuapkan Martabak ke mulut mungil ini, aku langsung jatuh cinta sama kue berbentuk lingkaran, bertekstur lembut dan crispy dibagian pinggir ini. Martabak manis, seperti aku yang manis hehe. Setelah Tante dan Om menikah, tepatnya saat aku berusia enam tahun, Om jadi jarang membelikan Martabak, soalnya Tante sudah tidak tinggal sama Nenek lagi, dia tinggal sama Om dirumahnya. Aku, Ibu, Ayah, dan kedua adikku masih tinggal di rumah Nenek. Paling-paling kalau Om dan Tante berkunjung ke rumah Nenek aja, baru deh dia membelikan Martabak.

Martabaklah yang membuat Om disukai Nenek dan keluarga kami. Martabak juga yang membuat aku merasakan yang namanya kue manis, legit untuk pertama kalinya. Martabak jugalah yang membuat penjual Martabak disebelah Kantorku jadi selalu ku beli dagangannya. Martabaklah yang membuatku berfikir kalau aku punya pacar, aku akan seperti Om, membawakan Martabak spesial untuk calon mertua ku ehehhhe. Dan martabak pulalah yang membuatku sadar bahwa hidup enggak selalu manis.

Beberapa bulan lalu saya akhirnya punya pacar, namanya Deva. Dia temannya teman kantorku, kami berkenalan di tengah acara resepsi pernikahan temanku. Hanya butuh waktu satu bulan untuk pendekatan, lalu kami pacaran. Dia adalah lelaki yang baik, ganteng, cerdas, berkharisma, dan nurut banget apa kata orang tua. Yah, dia terbilang anak mami. Apa-apa Mami, apa-apa Papi, huuuft. Kadang aku suka kesal kalau dia udah berat ke orang tua ketimbang aku, pacarnya. Tapi aku memaklumi hal itu, Deva anak tunggal, satu-satunya pewaris kekayaan orang tuanya. Deva anak kongkomerat, wajar saja kalau dia sangat patuh sama apa kata orang tuanya. Jangan tanya kok kita bisa pacaran yah, karena aku sendiri juga binggung kenapa orang sekaya Deva mau jadian sama orang kere sepertiku.

Sebulan jadian, Deva mengajakku makan malam di rumahnya, dia ingin memperkenalkanku pada orang tuanya. Setiap perempuan yang jadi pacarnya wajib dikenalkan. Dia bilang, pandangan orang tua itu penting. Dan dia meyakinkanku bahwa orang tuanya pasti akan senang melihatku. Perempuan mana yang enggak senang kalau pacar orang tuanya akan senang dengan keberadaan kita. Aku enggak boleh ngecewain Deva yang udah berhati besar mengajakku untuk menemui orangtuanya. Aku enggak boleh bikin malu dia. Setelah pekerjaanku selesai, aku ke kamar mandi. Aku sudah membawa peralatan 'perang' dari rumah. Aku berdandan secantik-cantiknya. Sebenarnya bersolek itu bukan kebiasaanku, semua ini demi Deva. Aku mesti terlihat menawan di depan kedua orang tuanya.

Pukul enam sore, deva menjemputku di kantor. Dia sempat terbelalak melihatku, dia bilang aku cantik banget sore ini. Aduh, dipuji sama orang setampan Deva itu rasanya kayak terbang ke surga naik kuda sembrani. Tidak perlu di deskripsikan penampilan Deva sore ini, dia masih tetap seperti biasanya, berkharisma. Sebelum masuk ke mobil mewahnya, terlebih dahulu aku menghampiri bang Komar untuk mengambil Martabak yang sudah ku pesan beberapa menit yang lalu. Aroma Martabak yang masih hangat memang membuat perut lapar. Deva bilang harusnya aku enggak usah pesen Martabak segala, soalnya dirumahnya sudah banyak makanan. "Takut enggak kemakan aja, Ris," jelasnya. Aku tetep kekeh mau bawain Martabak, "Ya masa aku mesti ngembaliin Martabak yang sudah ku pesan," protesku. Dia cuma bilang, terserah kamu. Rasanya aku pengen nyuil sedikit martabaknya, aku sudah kelaparan, tapi kuurungkan niat ku. Apa kata orang tuanya kalau Martabaknya kecuil.

Deva memang anak konglomerat. Rumahnya saja besar sekali, ukurannya sekitar 5 kali rumahku. Mimpi apa aku semalam diajak ke istana megah ini. Deva membimbingku masuk ke rumahnya. Dia menyuruhku duduk di ruang keluarga. Aku pun duduk di sofa yang super empuk, kelihatannya sih sofa mahal. Banyak barang-barang antik dan mahal disini. Aku sampai tak berani dekat-dekat. Bukan apa-apa cuma takut rusak. Jantungku berdegup kencang saat suara orang tuanya mulai terdengar. Ketika orang tuanya sudah muncul dihadapanku, keringatku mengalir deras, kakiku lemas, jantungku berdetak lebih kencan lagi, dan rasanya aku mau pingsan. Deva memperkenalkanku pada kedua orang tuanya, kami pun berjabat tangan. Orang tua Deva cukup ramah, namun masih tercermin ego mereka yang tinggi. Dagunya itu loh, bikin orang-orang merasa kalo mereka memang terlahir untuk jadi manusia sombong dan angkuh. Dengan segera, aku memberikan bungkusan Martabak yang sudah agak dingin ini kepada mereka.
"Apa ini, nak?" tanya maminya padaku.
"Martabak tante," jawabku sambil tersenyum.
"Aduh, nak, kita ini punya diabetes sama kolesterol, jadi enggak boleh makan kue yang beginian," ungkapnya.
"Yasudah, kamu bawa pulang saja Martabaknya, dari pada disini enggak ada yang makan," sambung Papinya.
Waw, ada sentakan kencang di pipiku. Aku merasa seperti ditampar. mendengar pernyataan mami dan papinya Deva aku cuma tersenyum, lagi.
"Kan, tadi aku udah bilang, enggak usah dibawain Martabak," nada bicara Deva mulai meninggi, sepertinya dia agak kesal.
Tiba-tiba Deva menyalahkanku, keluarga macam apa ini?
Selama makan malam aku enggak mood untuk ngomong. Bukannya enggak mau ngomong tapi emang enggak diberi kesempatan untuk berbicara. Aku hanya jadi kambing congek yang mendengar Deva dan kedua orang tuanya berceloteh, menceritakan keadaan hari ini, memamerkan kemajuan pesat yang dialami perusahaan papinya. Mereka mungkin tidak menyadari kalau aku ada. Ternyata keluarga Deva tidak seramah keluargaku yang langsung jatuh hati pada om cuma karena dia bawa Martabak.

Dua hari kemudian, Deva memutuskan hubungan kami. Kisah cinta yang hanya berjalan sebulan lebih dua hari ini berakhir hanya karena orang tuanya tidak menyukaiku. Ingin sekali aku bertemu dengan Deva dan mencabik-cabik wajahnya, menendang kemaluannya, namun apa daya aku sudah muak dengannya. Bisa-bisa kalau ketemu dia sebelum aku bertindak, aku sudah muntah duluan. Aku enggak sedih, aku malah bersyukur tidak menjadi bagian dari keluarga mereka, keluarga kaya raya yang sombong. Rupanya cerita manis Om ku tidak berhasil aku terapkan dalam kehidupanku sendiri.

"Nih neng Risa, martabak keju cokelatnya," sahut Bang Komar yang sekaligus membuyarkan ingatanku tentang Deva.

Dan....setiap makan Martabak......
Aku seperti membanyangkan sedang memakan Deva dan kedua orang tuanya hahahahha.

@dee_tary

Kenalan

Rasanya tidak lengkap sebuah blog tanpa perkenalan. Blog ini ada karena proses pertukaran pikiran antara saya dan kedua teman dekat saya di kampus, Tari dan Ketty. Saat itu kami ingin membuat sebuah proyek agak-iseng-agak-serius, dan terpikirlah ide untuk membuat sebuah blog (lagi). Kenapa lagi? Karena kami bertiga sudah memiliki blog pribadi masing-masing. Kenapa blog? Karena kami bertiga memiliki hobi menulis di blog, terlepas kami memiliki bakat atau tidak.

Saya ingin memperkenalkan diri saya sendiri, karena mungkin nanti teman saya ingin memperkenalkan diri mereka masing-masing.

Saya Lidya, mahasiswi tingkat pertama di sebuah universitas negeri di Depok. Lulusan D3 dari sebuah politeknik negeri di kota yang sama. Di politeknik inilah saya bertemu dengan Tari dan Ketty. Saya sama seperti orang lain, memiliki keistimewaan dan kekurangan yang saya miliki sendiri.

Saya menulis sejak SD, sejak memiliki sebuah buku harian sendiri. Sebagian besar isinya khayalan tentang kartun-kartun, seperti Digimon dan Sailormoon. Kadang saya menulis tentang cowok yang saya suka (iya, SD loh. Centil sekali bukan? Haha).

Namun hobi menulis cerita saya baru diawali saat SMP, saat saya dan teman-teman sekelas saling membuat novel (atau cerita bersambung) yang ditulis di buku tulis biasa. Saat itu seperti 'perang tanding' siapa yang memiliki ide cerita dan gaya penulisan yang paling baik. Saya yang waktu itu sangat gandrung dengan komik Inuyasha mengadaptasi ceritanya dan menulis ulang dengan tokoh yang saya karang sendiri. Ada yang menulis cerita seperti novel pendek Miyuki Kobayashi yang sangat booming di kalangan anak perempuan kelas 1 SMP dulu. Sebuah permulaan hobi yang menyenangkan.
Hobi ini berlanjut sampai di kelas 2 SMP. Ada yang tulisannya berkembang dan menurut saya paling memiliki bakat menulis, seorang teman geng (hehe), namanya Ira. Sayang ia tidak melanjutkan lagi. Ceritanya lucu (setidaknya menurut saya) dan luwes. Namun ada pula beberapa teman yang karyanya cukup aneh dan membuat kening berkerut.

Kelas 3 SMP, di saat satu per satu penulis berhenti menulis, saya masih asik menulis tentang seorang perempuan SMA galak berambut pendek yang sering marah-marah sendiri. Benar, mungkin itu adalah personality saya saat masih SMP dan SMA dulu. Hahaha..

Cerita tentang si perempuan SMA galak ini berlanjut sampai saya duduk di kelas 1 SMA. Beragam genre saya jajaki, mulai dari kisah-kisah seperti komik serial cantik sampai genre yang cukup mengkhayal, bahkan agak menyerempet sadis. Hanya satu persamaannya, kisah yang saya buat tidak pernah tamat. Ada beberapa cerpen yang tamat saat saya SMA, namun komputer saya yang tua dan gendut mendadak harus diistirahatkan untuk selamanya. Jadilah semua cerpen yang saya simpan di dalamnya ikut terkubur.

Beruntung saya masuk ke jurusan yang menyenangkan di politeknik. Ada mata kuliah penulisan fiksi, dosennya adalah cerpenis kawakan yang karyanya sering muncul di Kompas, Pak Adek Alwi. Melalui mata kuliah ini saya membuat beberapa cerpen yang akhirnya tamat. Sebuah cerpen saya Beliau sarankan untuk dikirim ke koran Tempo, lalu saya kirim dan nasib, tidak pernah dimuat. Hehe..
Namun sejak itu saya semakin sering menulis. Beberapa cerpen saya masukkan di blog pribadi saya yang di-protect, sementara yang lebih baru saya masukkan di blog pribadi saya yang untuk konsumsi publik.

Masuk di universitas yang sekarang, saya bergelut dengan sastra berbahasa Inggris. Sebuah jurusan yang sesuai dengan minat saya.

Satu hal yang saya ingat adalah twit dari seorang dosen saya yang juga editor senior di Gramedia. Kata Beliau begini kurang lebih, "Menulis itu tidak hanya butuh wawasan yang luas dan minat, namun juga bakat."

Sebuah twit yang saya ingat sampai sekarang karena memang saya merasa menulis bagi saya hanyalah sekadar hobi, bukan karena ada bakat. Saya menulis berdasarkan apa yang saya suka, bukan berdasarkan apa yang orang suka. Saya tidak mampu membuat sebuah kalimat-kalimat indah nan puitis. Saya menulis apa yang saya inginkan.

Berada di sebuah lingkaran pertemanan yang memiliki hobi menulis adalah suatu keuntungan tersendiri. Mungkin kami memang masih amatir dan memiliki gaya menulis yang sangat berbeda, namun dari sana kami mampu bertukar pikiran, cercaan, dan juga pujian.

Terima kasih, selamat menikmati blog kami.


@lidyapawestri
dys-to-pia.blogspot.com

The Baked Goods

The Baked Goods

Good Menu at The Baked Goods


 Bublaina, dok. pribadi

Carrot Cake, dok. The Baked Goods

The place that you can taste cake from Checko. Cake shop ini masih terbilang baru untuk disejajarkan dengan cake shop lain yang terlebih dahulu mengisi kemeriahan ibu kota. Namun cake shop yang didirikan oleh MC kondang Erwin Parengkuan beserta Jana, sang istri, ini mampu menghadirkan menu yang tak biasa dan patut untuk dijadikan referensi tempat hang-out  Anda.


“Saya dan istri gemar memasak, semua produk disini buatan Jana. Dulu Jana tidak bisa memasak sama sekali, sampai kami memiliki anak dan dia tidak doyan makan, Jana pun mulai belajar membuat makanan resep dari neneknya supaya anak kami doyan makan,” kenang Erwin. Sang istri lebih mahir membuat kreasi menu dessert dibandingkan Erwin yang lebih mahir dalam membat main course. Menu dessert yang semula hanya untuk dinikmati sendiri ini rupanya menggelitik Erwin dan Jana untuk membuka bisnis makanan dengan menu yang berbeda. Jana sebagai creator makanannya sedangkan Erwin berperan sebagai critical. Erwin dan Jana pun dengan berani membuka bisnis makanan secara online, tak disangka-sangka banyak yang memesan. Bisnis online yang menjanjikan itu dikembangkan lagi menjadi bentuk konsinyiasi, Erwin memasukkan produk cookies dan beberapa cakenya di Kem Chick Pacific Place. Respon masyarakat mengenai produknya sangat bagus. Dua tahun menjalankan bisnis online, akhirnya pada tanggal 11 November 2011, Erwin dan Istri membuka cake shop pertamanya di bilangan Sabang, Jakarta Selatan.

Bisnis online dengan bisnis cake shop memang berbeda, hal ini diakui Erwin sebagai sarana untuk bertatap muka langsung dengan pelanggannya, “Dengan adanya cake shop ini kita jadi tahu siapa saja pelanggan kita, yang suka kue ini siapa yang suka kue itu siapa,” ungkapnya. Sekarang customer bisa memesan langsung kue atau cookies di The Baked Good. Walaupun jangka perencanaan dalam membangun cake shop ini hanya dalam 40 hari, namun para owner dari The Baked Goods telah memikirkan konsepnya dengan matang. Customer juga bisa dine in, karena The Baked Goods memiliki teras yang cocok untuk tempat menyantap makanan Anda.

Konsep cake shop dari The Baked Goods selayaknya berada di rumah. Menggunakan perangkat yang di dominasi oleh kayu dan dominasi putih membuat cake shop ini terkesan homy.  Jika anda nongkrong di teras depan, Anda bisa menyantap makanan sambil memandangi lalu lintas Jakarta. Masuk ke dalam cake shop-nya, Anda akan melihat rangkaian cookies yang dipajang disepanjang siku tembok dibelakang kasier. Semua cake ditata rapih di dalam showcase cantik sehingga Anda bisa dengan leluasa memilih cake yang Anda sukai.

Bertempat di salah satu kawasan kuliner Jakarta, membuat The Baked Goods gagah menjulang menawarkan keragaman menu dengan tempat yang cozy diantara beragam jajanan kuliner disana. The Baked Goods memang menawarkan banyak menu dessert, dapat dipastikan customer yang dine in disini hanya ingin makan camilan sambil beristirahat. Jenis cake banyak ditawarkan disini, Erwin membagi kreasi hasil karya istrinya tersebut kedalam empat kategori yaitu cookies, cake, light meal, dan dessert. Dan sebagian besar menu disini merupakan kreasi makanan ceko. “Kami punya menu yang saya rasa enggak ada di tempat lain, outentitas kami yang menyajikan cake dari ceko, sehingga saingannya sedikit, cookies kami banyak, dan jenis kue juga beragam” jelasnya saat ditanya dalam menghadapi persaingan bisnis cake shop di Jakarta. Beberapa menu pilihan yang bisa anda nikmati disana diantaranya Cheese Cake yang dibuat dengan tampilan berbeda; Carrot Cake with Cream Cheese Frosting; Bublaina, cake asal ceko yang didalamnya terdapat strawberry; Quiche Smoked Beef & Cheese; dan bagi Anda penyuka bayam bisa memesan Quiche Spinach, Smoke Beef, Mushroom. Menu lainnya bisa anda tilik di www.thebakedgoods.co.id atau bisa juga datang langsung ke The Baked Good Shop JL. H Agung Salim No. 6. Bicara soal harga The Baked Goods mematok harga kue per piece untuk cake yang bisa dimakan langsung, diluar pesanan. Harga per piece-nya mulai dari Rp 5.000,-  sampai Rp 19.500,-

Selain menunya yang beragam, makanan disini sudah dipertimbangkan dengan matang tentang penggunaan ingredient-ya. “Keunggulan menu disini, pertama produk kami less sugar, Jana penggila dessert, dan dari semua tempat yang kami datangi produknya terlalu manis, jadi kami membuat menu yang pas dilidah, tidak terlalu manis. Kedua, we’re using really ingredient. Kalau ada produk yang memakai lemon yah kami benar-benar menggunakan lemon, begitu juga dengan buah-buahan lain,” tutur Erwin.

Menurut Erwin cake shop-nya ini bisa ramai di jam-jam tertentu, “Keramaian di tempat ini enggak tentu yah, karena kita buka dari hari senin sampai jumat jam 10.00 – 22.00 tapi kalau sabtu buka sampai jam 11 malam, kadang bisa pagi, bisa siang, bisa malam juga.” Untuk kedepannya, setelah memperkuat positioning di dalam, ia berencana untuk membuka cabang baru. “Tahun ini kita mau buka cabang baru setelah memperkuat positioning, selain itu kami juga akan menambahkan menu main course,” ujar Erwin.

Erwin Parengkuan menambahkan tips penting bagi Anda yang ingin mencoba berbisnis dibidang makanan, “Kita harus tahu produk yang kita miliki, buatlah sesuatu yang berbeda karena kalau sama ngapain buka cake shop, tantangan dalam membuka adalah menyediakan food service untuk pelanggan, kuality control demi menghasilkan produk yang berkualitas.”

#dee_tary




Diberdayakan oleh Blogger.