Selamat Berbahagia




kriiing kriiing kriiing

Bunyi jam beker itu membangunkanku. Biasanya aku tidak pernah menggunakan jam itu, hanya karena akhir-akhir ini aku selalu bangun kesiangan, jam tua itu pun aku gunakan juga. Jam beker yang usianya sama denganku merupakan pemberian mendiang kakekku, dia kolektor jam. Setelah beliau wafat aku diwarisi jam beker itu.

Hari minggu yang cerah ini bisa dibilang hari istimewa bagiku. Aku akan bertemu dengannya lagi. Jam dua, ditempat yang sama saat aku pertama kali bertemu dengannya empat tahun yang lalu.


Semalam

"Plis, angkat telfonnya, Anisa!" ucapku gelisah, tak sabar ingin mendengar suaramu.
"Siaaal!" erangku.

Dia tidak mengangkat telfonku. Aku ingin mendengar suaramu lagi. Aku merindukanmu Anisa, tahukah kamu sekarang aku seperti orang gila? berjalan kesana kemari padahal aku sedang berada dikamar sendiri.

***

Seminggu yang lalu

"Nis," sapaku.
"Ya?" jawabnya.
"Aku akan melamarmu," ucapku sengau.
Dia hanya diam sambil memandangi botol saus di atas meja makan kami. Ku lihat kedua matanya  berkaca-kaca, genangan air memenuhi matanya yang indah.

Satu Bulan yang lalu
"Nis," sapaku.
"Ya?" jawabnya.
"Aku mencintaimu, aku ingin selalu berada disamping mu,"
Kamu hanya tersenyum. Senyuman yang selalu membuatku mabuk kepayang.

Setahun yang lalu
"Ar, aku mencintaimu, dan akan selalu mencintamu."
"Aku juga, Nis"


Dua tahun yang lalu
"Ar," dia memanggilku.
"ya, Nis?" jawabku.
"Kapan, kamu akan melamarku?" tanyanya bergetar.
"Pasti aku akan melamarmu nis. Kalau sudah kudapat gelarku, aku akan langsung menemui orang tuamu, kamu yang sabar nunggu aku ya," jelasku.
Sepertinya pernyataanku bukanlah yang ia inginkan. Wajahnya kini berubah sendu.

Tiga tahun yang lalu
"Ar," panggilnya.
"Ya, Nis, ada apa?" jawabku.
"Kapan, kamu akan melamarku?" ungkapnya serius.
"Kalau saat ini aku belum bisa, Nis," 
"Kenapa? kamu bilang kamu mencintaiku?"
"Iya, tetapi menikah bukan hanya sekedar urusan kita saja. Banyak yang harus aku persiapkan, contohnya pendidikanku, pekerjaanku, aku enggak mau kamu nikah sama aku tapi kamu malah jadi susah," jelasku.
"Susah senang kita tanggung bersama Ar,"
"Ya aku tahu, tapi aku tidak ingin membuat hidupmu menderita,"
Dia diam.
"Aku pasti akan menikahimu Nis, pasti!"

Empat tahun yang lalu

"Arya, kenalin ini namanya Anisa," ujar temanku.
"Arya," kataku sambil mengulurkan tangan, memberi salam.
Dia tidak menyambut uluran tanganku, malah ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia memberi salam dengan cara yang berbeda.
Dia bukan perempuan sembarangan, aku yakin dia perempuan suci. Pertemuan singkat yang mampu mengubah hidupku menjadi lebih berwarna. Aku jatuh cinta.

***

Jam satu tepat, aku sudah siap bertemu denganmu Nis. Ku kenakan pakaian terbaik, demi menambut pertemuan kita. Pertemuan paling istimewa. Aku juga membawakanmu hadiah, aku yakin pasti kamu suka dengan pilihanku ini.

Selama perjalanan, tak bosan-bosannya aku mendengarkan alunan musik kesukaanmu padahal dulu aku paling muak mendengarkan lagu ini. Kamu menyukai instrumennya, kamu bilang semua lagu-lagunya dapat menenangkan hati. Tetapi bagiku, tanpa lagu ini pun suaramu dapat menenangkan hatiku.

Akhirnya sampailah aku di tempat tujuan. Banyak orang berlalu lalang, membuatku agak sedikit sulit mencarimu. Kedua mataku terus mengawasi kehadiranmu. Tepat di ujung, di tempat yang lebih tinggi aku bisa melihatmu. Kamu memakai gaun dan jilbab merah marun, warna kesukanmu. Kamu terlihat semakin cantik dengan gaun itu. Betapa pesonamu memancar jelas diantara orang-orang ini. Tuhan, bidadari yang kau ciptakan ini memang sempurna.

Aku sudah tak sabar ingin melihatmu lebih dekat, mendengar suaramu lebih jelas. Selangkah demi selangkah kususuri jalan yang memberi jarak diantara kita. Kini, aku sudah berada di hadapanmu, perempuan yang paling kucintai setelah ibuku. Kamu tersenyum kepadaku, melihatku dengan mata berkaca-kaca. Ingin rasanya aku memelukmu, menghapus air matamu yang aku yakin sebentar lagi akan membasahi pipimu. Sayangnya, aku tidak bisa menyentuhmu lagi. Nyatanya, kami hanya bersalaman, kamu tidak menakupkan tangan di dada.

Sekarang giliran mataku yang berkaca-kaca. Aku harus secepatnya pergi dari tempat ini, sebelum Anisa melihat pipiku basah. Rasanya sakit sekali harus mengungkapkannya, tetapi mau tidak mau aku harus mengungkapkannya.

"Selamat berbahagia ya Nis," jantungku semakin berdegup kencang.
"Terima kasih Ar," ungkapnya sambil tersenyum.

Cepat-cepat aku meninggalkannya, meninggalkan semua kenangan indah bersamanya. Maaf, Anisa aku belum bisa memenuhi janjiku untuk menikahimu. Mungkin kamu akan lebih berbahagia bersama seseorang yang kini berdiri disampingmu. Orang yang resmi menjadi, Suamimu.


John Mayer - Half of My Heart

I was born in the arms of imaginary friends
free to roam, made a home out of everywhere I've been
then you come crashing in, like the realest thing
trying my best to understand all that your love can bring

oh half of my heart's got a grip on the situation
half of my heart takes time
half of my heart's got a right mind to tell you
that I can't keep loving you (can't keep loving you)
oh, with half of my heart

I was made to believe i'd never love somebody else
I made a plan, stay the man who can only love himself
lonely was the song I sang, 'til the day you came
Showing me another way and all that my love can bring

oh half of my heart's got a grip on the situation
half of my heart takes time
half of my heart's got a right mind to tell you
that I can't keep loving you (can't keep loving you)
oh, with half of my heart
with half of my heart

your faith is strong
but I can only fall short for so long
Down the road, later on
you will hate that I never gave more to you than half of my heart
but I can't stop loving you
I can't stop loving you [x3]
but I can't stop loving you with half of my...

half of my heart
half of my heart

half of my heart's got a real good imagination
half of my heart's got you
half of my heart's got a right mind to tell you
that half of my heart won't do

half of my heart is a shotgun wedding to a bride with a paper ring
And half of my heart is the part of a man who's never truly loved anything

half of my heart [x6]

0 comments:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.