Mainan Rere



Rere suka sekali membeli mainan. Mulai dari Barbie sampai lego Rere memilikinya. Setiap bulan ia akan meminta ibu membelikannya mainan baru. Jika ibu menolak permintaan Rere, ia pasti akan merengek sepanjang hari sampai ibu membelikannya mainan. Ibu pusing sekali melihat mainan Rere yang semakin lama semakin menumpuk dan tersebar disegala penjuru ruangan.

Pernah suatu kali ibu membuang beberapa mainan yang sudah tidak pernah Rere sentuh lagi. Rere yang mengetahui beberapa mainannya berada di tempat sampah langsung mengambilnya kembali.
“Bu, kok mainan Rere dibuang sih?” protes Rere
“Itu kan mainan sudah rusak Re, daripada menuh-menuhin tempat yah Ibu buang saja,” jelas Ibu.
“Tapi kan ini mainan kesayangan Rere, pokoknya kalau Ibu membuang mainan Rere lagi, Rere enggak mau sekolah,” ancam Rere.
“Kalau mainannya enggak mau dibuang, ya Rere beresin donk, jangan malah tersebar dimana-mana,” seru ibu sedikit kesal.

Rere tidak pernah mendengarkan ucapan ibu, ia tetap tidak mau membereskan mainannya. Rupanya ibu juga sudah lelah menasihati putri cantiknya itu jadi ia biarkan saja Rere bermain sesuka hati dengan mainan-mainannya.

Sampai pada suatu hari ketika Rere sedang asik bermain barbie, ia tak sengaja menginjak lego dan ia pun jatuh tersungkur. Kening Rere membentur kaki meja, “Ibuuu,” jerit Rere. Ibu yang mendengar jeritan Rere langsung berlari menghampiri anaknya. “Ya ampun Rere, kamu kenapa?” ujar ibu melihat Rere sedang kesakitan.
“Keningku terbentur kursi bu,” gumam Rere sambil menangis.
“Coba sini ibu lihat,” pinta ibu, “Aduh sampai biru begini kening kamu, Re! sini biar ibu kompres dengan air dingin,”

Luka yang ada di kening Rere memang tidak begitu parah, namun membuat keningnya agak sedikit kebiru-biruan dan benjol. Rere takut sekali kalau sampai besok pagi benjolan yang ada dikeningnya belum mengempis, pasti teman-teman disekolah akan menertawakannya.

“Bu, kalau sampai besok benjol Rere belum sembuh, Rere ijin ya sekolahnya?” pinta Rere sambil mengelus-elus keningnya.
“Lho, bukannya besok Rere ada ulangan Matematika?”
“Oh, iya bu Rere lupa!”
“Kalau begitu berjanjilah jika besok benjol pagi benjolnya sudah mengempis, Rere akan membereskan semua mainan Rere dan membuang mainan yang tidak terpakai, bagaimana?”
“Baik Bu, Rere janji,”

Esok hari, doa Rere terkabul. Benjolnya sudah mulai mengempis namun masih agak sedikit terlihat memar. Rere tidak perlu takut ditertawakan teman-temannya. Sebelum berangkat ke sekolah Ibu ngengingatkan kembali akan janji Rere kemarin. Rere berjanji sepulang sekolah ia akan membereskan mainannya.

Saat jam pelajaran Ibu anita dimulai, beliau memberitahukan bahwa Andi dan beberapa siswa di kelas lain sedang terkena musibah. Rumah mereka terendam banjir setinggi pinggul orang dewasa. “Bagi anak-anakku disini yang tidak terkena musibah banjir, ibu mengharapkan bantuan kalian untuk meringankan beban mereka, kalian bisa menyumbangkan makanan, pakaian, atau uang semampu kalian,” ungkap Ibu Anita. Rere sangat iba mendengar kabar tersebut, ia berniat akan membantu menyumbang tetapi ia masih bingung hendak menyumbang apa.

Pulang sekolah Rere tidak lupa dengan janjinya untuk membereskan mainan. Ibu senang sekali melihat rumahnya menjadi bersih terlebih melihat anaknya menjadi rajin. Rere memisakan mainan menjadi dua bagian, mana yang masih ingin disimpan dan mana yang akan dibuang. Ternyata mainan yang akan dibuang jauh lebih banyak dibandingkan mainan yang disimpan.
“Bu, mainan yang akan Rere buang banyak juga ya? Sayang kalau dibuang begitu saja,” gumam Rere bersedih hati.
“Ibu punya ide, kenapa tidak kita jual saja mainannya kepada tukang rongsokan?” seru Ibu, “nanti uangnya bisa disumbangkan ke teman-teman Rere yang terkena musibah banjir.”
“Wah, ide bagus Bu, daripada dibuang sia-sia lebih baik dijual lagi ya Bu,” ujar Rere senang.
“Iya, setidaknya walaupun sudah tidak terpakai tetapi masih bisa berguna untuk orang lain,” tambah Ibu.

Sejak saat itu Rere tidak pernah lagi membuat mainannya berceceran dimana-mana. Setelah selesai bermain ia langsung membereskan mainanya lagi. Rere tidak mau keningnya benjol lagi karena tersandung mainannya sendiri.

Telah diterbitkan di Majalah Just For Kids Edisi 17

Keluarga Rubah dan Anak Burung


Di sebuah desa yang kaya akan hasil alamnya, terdapat sepasang rubah yang sudah lama menikah namun tidak dikaruniai anak. Mereka sudah lama mendiami desa tersebut bersama dengan masyarakat yang lain. Keluarga rubah tersebut hidup sangat sederhana, mereka merupakan keluarga yang penuh cinta kasih. Mereka sangat senang apabila ada anak tetangga yang main kerumahnya. Bapak dan Ibu Rubah akan menyediakan banyak makanan untuk anak-anak yang berkunjung kerumahnya. Maka dari itu, walaupun mereka tidak memiliki anak namun mereka tetap merasa memiliki anak sediri.  

Bapak Rubah sehari-hari bekerja diladang jagung milik Bapak Beruang, sedangkan Ibu Rubah setiap pagi berjualan di pasar, dan siang hari pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar untuk memasak.  

Pada suatu hari, saat Ibu Rubah mencari kayu bakar di hutan, ia mendengar suara kesakitan. Dengan perasaan agak sedikit ketakutan, Ibu Rubah mendekati sumber suara tersebut. “Toloong, sayapku patah!!” ucap suara tersebut.  Suara itu memang semakin dekat, namun Ibu Rubah belum menemukan asalnya.  

“Toloong aku!” suara itu kembali membuat Ibu Rubah mengernyitkan dahi, namun kali ini suara itu semakin melemah. “Hei, kamu ada dimana? Aku ingin menolongmu!” seru Ibu Rubah yang sudah mulai cemas. “Aku ada di dekat kakimu, Bu” ujar suara tersebut. Sontak Ibu Rubah menunduk ke bawah, betapa terkejutnya ia melihat ada seekor anak burung kutilang sedang berbaring lemah tak berdaya karena sayapnya penuh darah. 

Ibu Rubah segera meletakkan kayu bakar di tanah dan menggendong anak burung tersebut. Lalu ia membawa anak burung tersebut ke rumahnya.  

Ibu Rubah segera meletakkan anak burung tersebut di tempat tidur, dan membasuh sayapnya dengan air hangat. “Aduh, sakit sekali Bu,” desah anak burung sambil menangis. “Ibu, aku mau pulang”  

“Kamu tidak bisa pulang dalam keadaan sayap terluka begini, nak!” seru Ibu Rubah, “biar Ibu obati lukamu dulu ya?”. Anak burung kutilang pun menganggukan kepala dan berhenti menangis. Setelah sayap anak burung dibalut perban, Ibu Rubah menyuguhkan semangkuk bubur gandum. Dengan sabar Ibu Rubah menyuapi anak burung kutilang tersebut.  

“Nak, siapa namamu?” tanya Ibu Rubah.  
“Namaku Chiko, Bu!” jawab anak burung  itu.  
“Tok tok tok,” terdengar ada yang mengetuk pintu.  

“Sepertinya suamiku sudah pulang, Ibu bukakan pintu dulu ya!” Ibu Rubah segera membukakan pintu teryata Bapak Rubah sudah pulang dari Ladang. Ibu Rubah lalu menceritakan apa yang dialaminya saat mencari kayu bakar di hutan. Bapak Rubah segera menemui Chiko, raut wajahnya begitu sendu melihat keadaan Chiko terbaring lemah tak berdaya.  
“Nak Chiko mengapa sayapmu bisa terluka?” tanya Bapak Rubah.  
“Begini Pak, saat aku sedang asik terbang mengelilingi hutan, ada seekor musang mencoba memburuku, ia menembakkan senapannya ke arahku, dan sayapku terkena pelurunya, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh, untung saja Ibu Rubah segera datang menolongku,” ujar Chiko.  
“Chiko, bagaimana kalau kamu tinggal disini dulu sampai sayapmu benar-benar pulih?” pinta Bapak Rubah.  
“Apa tidak merepotkan, Pak?” gumam Chiko.  
“Tentu saja tidak, kami justru senang jika kamu betah disini, nanti kalau kamu sudah sembuh kami akan mengantarkanmu ke hutan tempat keluargamu berada,” ujar Bapak Rubah, Chiko menyetujui permintaan Bapak Rubah.  
Selama tinggal di rumah Bapak dan Ibu Rubah, Chiko sudah dianggap seperti anak mereka sendiri. Chiko senang bisa mengenal keluarga rubah yang baik hati tersebut. Tanpa terasa, semakin hari sayap Chiko berangsur membaik. Ia mulai belajar untuk mengepakkan sayapnya. Bapak dan Ibu Rubah sangat senang melihat keadaan Chiko.  

Sebagai wujud rasa terima kasih Chiko kepada keluarga rubah yang telah merawatnya hingga pulih, Chiko ikut membantu Bapak Rubah bekerja di Ladang atau membantu Ibu Rubah berjualan di pasar.  

Kini sudah genap dua bulan Chiko tinggal di rumah keluarga rubah, Bapak Rubah ingat janjinya dulu akan mengantarkan Chiko kembali ke keluarganya jika keadaan Chiko sudah pulih. Awalnya Chiko tidak mau berpisah dari mereka, namun Bapak Rubah selalu mengingatkan Chiko bahwa keluarganya juga pasti sangat cemas memikirkan anaknya yang tidak kunjung pulang. 

Keesokan harinya, Bapak dan Ibu Rubah mengantarkan Chiko ke hutan. “Rumahku ada di balik bukit besar itu, Pak!” seru Chiko. “Baiklah kalau begitu, kami hanya mengantarkanmu sampai disini saja, sekarang temuilah keluargamu, mereka pasti sudah merindukanmu,” ujar Bapak Rubah.  

Chiko lalu berpamitan kepada keduanya, Ibu Rubah tak berhenti menangis, ia sedih harus berpisah dengan Chiko yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. “Bapak dan Ibu Rubah, jika aku merindukan kalian bolehkah aku mampir ke rumah kalian?” ujar Chiko sambil menyeka air matanya. “Tentu saja nak, rumah kami rumahmu juga, kapanpun kamu mau kamu bisa mampir kerumah kami,” kata Bapak Rubah sendu. Chiko mencium kening Bapak dan Ibu Rubah sebelum akhirnya terbang menuju ke balik bukit. Chiko berjanji suatu hari akan kembali untuk mengunjungi keluarga rubah yang penuh cinta kasih tersebut.




Selamat Berbahagia




kriiing kriiing kriiing

Bunyi jam beker itu membangunkanku. Biasanya aku tidak pernah menggunakan jam itu, hanya karena akhir-akhir ini aku selalu bangun kesiangan, jam tua itu pun aku gunakan juga. Jam beker yang usianya sama denganku merupakan pemberian mendiang kakekku, dia kolektor jam. Setelah beliau wafat aku diwarisi jam beker itu.

Hari minggu yang cerah ini bisa dibilang hari istimewa bagiku. Aku akan bertemu dengannya lagi. Jam dua, ditempat yang sama saat aku pertama kali bertemu dengannya empat tahun yang lalu.


Semalam

"Plis, angkat telfonnya, Anisa!" ucapku gelisah, tak sabar ingin mendengar suaramu.
"Siaaal!" erangku.

Dia tidak mengangkat telfonku. Aku ingin mendengar suaramu lagi. Aku merindukanmu Anisa, tahukah kamu sekarang aku seperti orang gila? berjalan kesana kemari padahal aku sedang berada dikamar sendiri.

***

Seminggu yang lalu

"Nis," sapaku.
"Ya?" jawabnya.
"Aku akan melamarmu," ucapku sengau.
Dia hanya diam sambil memandangi botol saus di atas meja makan kami. Ku lihat kedua matanya  berkaca-kaca, genangan air memenuhi matanya yang indah.

Satu Bulan yang lalu
"Nis," sapaku.
"Ya?" jawabnya.
"Aku mencintaimu, aku ingin selalu berada disamping mu,"
Kamu hanya tersenyum. Senyuman yang selalu membuatku mabuk kepayang.

Setahun yang lalu
"Ar, aku mencintaimu, dan akan selalu mencintamu."
"Aku juga, Nis"


Dua tahun yang lalu
"Ar," dia memanggilku.
"ya, Nis?" jawabku.
"Kapan, kamu akan melamarku?" tanyanya bergetar.
"Pasti aku akan melamarmu nis. Kalau sudah kudapat gelarku, aku akan langsung menemui orang tuamu, kamu yang sabar nunggu aku ya," jelasku.
Sepertinya pernyataanku bukanlah yang ia inginkan. Wajahnya kini berubah sendu.

Tiga tahun yang lalu
"Ar," panggilnya.
"Ya, Nis, ada apa?" jawabku.
"Kapan, kamu akan melamarku?" ungkapnya serius.
"Kalau saat ini aku belum bisa, Nis," 
"Kenapa? kamu bilang kamu mencintaiku?"
"Iya, tetapi menikah bukan hanya sekedar urusan kita saja. Banyak yang harus aku persiapkan, contohnya pendidikanku, pekerjaanku, aku enggak mau kamu nikah sama aku tapi kamu malah jadi susah," jelasku.
"Susah senang kita tanggung bersama Ar,"
"Ya aku tahu, tapi aku tidak ingin membuat hidupmu menderita,"
Dia diam.
"Aku pasti akan menikahimu Nis, pasti!"

Empat tahun yang lalu

"Arya, kenalin ini namanya Anisa," ujar temanku.
"Arya," kataku sambil mengulurkan tangan, memberi salam.
Dia tidak menyambut uluran tanganku, malah ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia memberi salam dengan cara yang berbeda.
Dia bukan perempuan sembarangan, aku yakin dia perempuan suci. Pertemuan singkat yang mampu mengubah hidupku menjadi lebih berwarna. Aku jatuh cinta.

***

Jam satu tepat, aku sudah siap bertemu denganmu Nis. Ku kenakan pakaian terbaik, demi menambut pertemuan kita. Pertemuan paling istimewa. Aku juga membawakanmu hadiah, aku yakin pasti kamu suka dengan pilihanku ini.

Selama perjalanan, tak bosan-bosannya aku mendengarkan alunan musik kesukaanmu padahal dulu aku paling muak mendengarkan lagu ini. Kamu menyukai instrumennya, kamu bilang semua lagu-lagunya dapat menenangkan hati. Tetapi bagiku, tanpa lagu ini pun suaramu dapat menenangkan hatiku.

Akhirnya sampailah aku di tempat tujuan. Banyak orang berlalu lalang, membuatku agak sedikit sulit mencarimu. Kedua mataku terus mengawasi kehadiranmu. Tepat di ujung, di tempat yang lebih tinggi aku bisa melihatmu. Kamu memakai gaun dan jilbab merah marun, warna kesukanmu. Kamu terlihat semakin cantik dengan gaun itu. Betapa pesonamu memancar jelas diantara orang-orang ini. Tuhan, bidadari yang kau ciptakan ini memang sempurna.

Aku sudah tak sabar ingin melihatmu lebih dekat, mendengar suaramu lebih jelas. Selangkah demi selangkah kususuri jalan yang memberi jarak diantara kita. Kini, aku sudah berada di hadapanmu, perempuan yang paling kucintai setelah ibuku. Kamu tersenyum kepadaku, melihatku dengan mata berkaca-kaca. Ingin rasanya aku memelukmu, menghapus air matamu yang aku yakin sebentar lagi akan membasahi pipimu. Sayangnya, aku tidak bisa menyentuhmu lagi. Nyatanya, kami hanya bersalaman, kamu tidak menakupkan tangan di dada.

Sekarang giliran mataku yang berkaca-kaca. Aku harus secepatnya pergi dari tempat ini, sebelum Anisa melihat pipiku basah. Rasanya sakit sekali harus mengungkapkannya, tetapi mau tidak mau aku harus mengungkapkannya.

"Selamat berbahagia ya Nis," jantungku semakin berdegup kencang.
"Terima kasih Ar," ungkapnya sambil tersenyum.

Cepat-cepat aku meninggalkannya, meninggalkan semua kenangan indah bersamanya. Maaf, Anisa aku belum bisa memenuhi janjiku untuk menikahimu. Mungkin kamu akan lebih berbahagia bersama seseorang yang kini berdiri disampingmu. Orang yang resmi menjadi, Suamimu.


John Mayer - Half of My Heart

I was born in the arms of imaginary friends
free to roam, made a home out of everywhere I've been
then you come crashing in, like the realest thing
trying my best to understand all that your love can bring

oh half of my heart's got a grip on the situation
half of my heart takes time
half of my heart's got a right mind to tell you
that I can't keep loving you (can't keep loving you)
oh, with half of my heart

I was made to believe i'd never love somebody else
I made a plan, stay the man who can only love himself
lonely was the song I sang, 'til the day you came
Showing me another way and all that my love can bring

oh half of my heart's got a grip on the situation
half of my heart takes time
half of my heart's got a right mind to tell you
that I can't keep loving you (can't keep loving you)
oh, with half of my heart
with half of my heart

your faith is strong
but I can only fall short for so long
Down the road, later on
you will hate that I never gave more to you than half of my heart
but I can't stop loving you
I can't stop loving you [x3]
but I can't stop loving you with half of my...

half of my heart
half of my heart

half of my heart's got a real good imagination
half of my heart's got you
half of my heart's got a right mind to tell you
that half of my heart won't do

half of my heart is a shotgun wedding to a bride with a paper ring
And half of my heart is the part of a man who's never truly loved anything

half of my heart [x6]

Tiga Musim dan Kita

Musim semi tentu sudah hampir berlalu dan di tanggal-tanggal mendatang -sederetan angka-angka yang akan begitu berarti- musim panas menjelang.

Nanti, di suatu hari di musim panas, kita berdua akan berjalan beriringan di tepi pantai dengan tangan saling terjalin layaknya sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Kita akan membiarkan air laut yang hangat menjilat jemari kaki, bahkan kita akan mencoba menenggelamkan diri dan tertawa karenanya.

Atau mungkin di suatu sore di musim panas, aku akan menghidangkan segelas jus buah segar untukmu di teras. Lalu kita akan berbicara, atau hanya sekadar menatap tanpa kata-kata. Aku mungkin akan jarang menghidangkan teh dan kopi untukmu. Kau pasti tahu teh dan kopi tidak terlalu baik untuk ginjal. Ah, aku peduli dengan kesehatanmu tentu. Aku akan menghidangkannya sesekali saja, kalau kau suka.

Di malam hari saat udara begitu pengap, kau akan mencoba membetulkan kipas angin atau AC di dalam kamar. Kamar kita berdua. Lalu aku akan memperhatikan kamu dan bersyukur bahwa kali ini kamu berhasil benar-benar membetulkan peralatan elektronik, bukan sekadar membongkarnya seperti kemarin-kemarin.

Hari-hari musim panas yang penuh gairah akan berlalu, lalu musim gugur datang perlahan. Angin mulai bertiup, cukup dingin, namun kita akan berlindung di balik tembok-tembok rumah yang hangat. Di malam yang cerah mungkin kita akan menikmati malam terang bulan di halaman rumah, dengan beberapa anak. Anak-anak kita.

Kita akan membiarkan mereka bermain di pekarangan, sambil mengawasi mereka agar tidak bermain terlalu jauh. Kita pasti akan memastikan bahwa mereka tidak terancam bahaya dari binatang-binatang liar yang berkeliaran di luar rumah. Lalu kita berdua akan berbicara mengenang hari-hari di musim panas yang telah lalu.

Kemudian suatu pagi, butir salju pertama turun dari langit. Anak-anak kita sudah berada jauh di luar rumah. Mereka sudah bertumbuh, kuat dan hebat. Kita kembali berdua di rumah, berselimut tebal, dan mungkin akan merasa payah untuk sekadar bangkit dari tempat tidur, namun kita akan bahagia. Aku tahu kita akan bahagia.

Lalu salah satu dari kita pergi di suatu hari penuh badai. Siapa pun yang tertinggal, kamu atau aku, tentu sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Namun musim-musim yang telah lalu sudah menguatkan kita, bukan? Cukup tiga musim yang kita habiskan bersama. Lagi pula tidak perlu serakah untuk mengecap musim berikutnya. Biarlah orang lain saja, biarlah anak-anak kita saja.

Nanti begitu musim dingin hampir habis, yang tertinggal pasti akan menyusul melewati badai dan kita akan bertemu lagi. Ya, kita pasti bertemu lagi. Di suatu tempat tanpa musim dan kita akan abadi di sana.

---

11.2.12.
Untuk kamu, kita, dan anak-anak kita nanti.
Siapapun kamu, di manapun kamu sekarang (@lidyapawestri, dys-to-pia.blogspot.com).

Gaung

Sejauh ini saya cukup kecewa dengan orang-orang di sekeliling saya. Bukan cuma kepada mereka, tetapi juga pada diri saya sendiri.

Saya sedih. Kenapa hal yang awalnya dibanggakan berubah menjadi sesuatu yang tidak punya arti apa-apa?

Saya orang egois yang menginginkan segala sesuatunya berjalan sempurna. Dan masalahnya di sini adalah saya tidak sempurna. Tidak ada orang yang sempurna!! Saya, anda, dan mereka. Tidak ada satupun yang sempurna!

Karena hal itulah saya membutuhkan mereka. Menggantungkan harapan saya pada mereka. Berharap mereka punya keinginan yang sama dengan saya.

Saya hanya ingin membuat sesuatu yang besar. Tapi saya tau bahwa saya tidak bisa melakukan semua ini sendirian. Saya butuh mereka karena hanya mereka yang bisa melengkapi semua ini jadi sempurna. Keinginan saya dan mereka, tadinya.

Tapi kenapa hal itu tidak bisa jadi sempurna? Padahal ada saya dan mereka?

Karena mereka tidak mengingnkannya? Atau mereka sebenarnya tidak pernah peduli akan hal ini? Atau mungkin sayalah yang salah di sini! Saya yang tidak mampu memimpin mereka? Ahh, saya tau, mereka menggampangkan semuanya, hal ini dan juga saya.

Saya terlalu menggantungkan harapan besar pada mereka dan sekarang saya di sini, terpuruk dengan sebongkah besar kekecewaan yang membuat segala pandangan saya berubah.

Saya harus jadi sempurna, dengan apapun caranya. Saya tidak mau lagi mengiba seperti orang bodoh. Saya harus jadi pintar. Saya tidak mau lagi bergantung pada orang lain. Saya harus bisa melakukan segalanya SENDIRI!!

Sehingga suatu hari nanti saya tidak perlu lagi merasa kecewa. Saya tidak perlu lagi merasa bodoh dan tidak berguna. Tanpa siapapun saya bisa melakukan semuanya, sendirian!!

Sekarang saya di sini dan saya sempurna. Saya bisa melakukannya segalanya sendirian. Saya tidak butuh bantuan orang lain untuk memasang tali di ventilasi yang nantinya menjadi tempat saya menggantungkan diri.

11 April 2010
untuk yang tercinta, yang mati melawan obsesi!

Hi..


Hi..
Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri. Nama saya... oke, sepertinya gak perlu terlalu lengkap. Saya cukup melengkapi perkenalan kedua teman saya yang sebelumnya sudah memposting tulisan di bawah ini.

Saya adalah salah satu dari tiga wanita cantik yang ada di gambar profil di pojok kanan atas blog.
Saya sekarang sudah bekerja di salah satu media di daerah Jakarta Selatan, di sebuah media yang pembahasan utamanya adalah sesuatu yang saat ini masih terlihat jauh di mata saya. Entah bagaimana jika lima tahun lagi :p

Saya (belajar) bersyukur bisa bekerja disini (ditempat saya bekerja). Meskipun menyita waktu dan (sedikit) tenaga, hingga membuat saya gak mampu untuk sekedar melanjutkan coretan tangan saya yang (sedikit) banyak terbengkalai, tapi saya sangat bersyukur.

Untungnya, saya punya teman-teman yang hobi menulis, seperti @dee_tary dan  @lidyapawestri :*
Ibarat layangan, bisa dibilang mereka itu adalah benang gelasan buat saya. Mereka yang memacu saya untuk menulis (lagi kalo saya hampir lupa) dan mereka juga yang menarik saya jika saya sudah terlalu jauh meninggalkan dunia tulis menulis (meskipun pekerjaan saya menuntut saya untuk menulis).
Kebetulan juga saya punya beberapa pembaca, yang entah senang atau memang iseng baca-baca blog saya. Tapi jujur, mereka juga salah satu penyemangat saya untuk terus menulis.

Bisa diambil kesimpulan, perkataan saya diatas sangat memberi kesan bahwa saya adalah seorang penulis yang handal.
Etdaghhhh, boro-boro. Tulisan saya itu bisa (amat sangat bisa) dibilang biasa, standar. Tapi saya akan berusaha supaya jadi lebih baik lagi nantinya.

Entahlah, saya yakin suatu hari nanti menulis akan menjadi suatu nilai besar dan kebanggaan buat saya.

Sekian perkenalan dari saya. Selamat menikmati cerita-cerita kami selanjutnya :)

Martabak Manis



"Bang, pesen martabak keju cokelatnya satu yah, yang garing," pesanku pada bang Komar, penjual Martabak langgananku.

Aku paling suka Martabak, apalagi yang rasa keju. Kue asal Mesir ini menjadi favoritku sejak aku berumur 4 tahun. Awal mula aku kenal kue ini juga dari Om ku. Jadi, dulu sebelum Tante --adik dari ibu- menikah dengan Om, Dia selalu membelikan Martabak Keju kalo lagi ngapelin Tante. Samar-samar kuingat, untuk pertama kalinya Tante mengenalkan pacarnya ke nenek. Om membawakan Martabak Spesial isi keju. Bukan hanya tante yang dibuat jatuh hati sama Om, tapi nenek juga, malah ibu juga ikut jatuh hati sama tingkah lakunya. Om dengan manisnya juga membuatku jatuh hati, dia memberikanku Martabak itu. Semenjak Om menyuapkan Martabak ke mulut mungil ini, aku langsung jatuh cinta sama kue berbentuk lingkaran, bertekstur lembut dan crispy dibagian pinggir ini. Martabak manis, seperti aku yang manis hehe. Setelah Tante dan Om menikah, tepatnya saat aku berusia enam tahun, Om jadi jarang membelikan Martabak, soalnya Tante sudah tidak tinggal sama Nenek lagi, dia tinggal sama Om dirumahnya. Aku, Ibu, Ayah, dan kedua adikku masih tinggal di rumah Nenek. Paling-paling kalau Om dan Tante berkunjung ke rumah Nenek aja, baru deh dia membelikan Martabak.

Martabaklah yang membuat Om disukai Nenek dan keluarga kami. Martabak juga yang membuat aku merasakan yang namanya kue manis, legit untuk pertama kalinya. Martabak jugalah yang membuat penjual Martabak disebelah Kantorku jadi selalu ku beli dagangannya. Martabaklah yang membuatku berfikir kalau aku punya pacar, aku akan seperti Om, membawakan Martabak spesial untuk calon mertua ku ehehhhe. Dan martabak pulalah yang membuatku sadar bahwa hidup enggak selalu manis.

Beberapa bulan lalu saya akhirnya punya pacar, namanya Deva. Dia temannya teman kantorku, kami berkenalan di tengah acara resepsi pernikahan temanku. Hanya butuh waktu satu bulan untuk pendekatan, lalu kami pacaran. Dia adalah lelaki yang baik, ganteng, cerdas, berkharisma, dan nurut banget apa kata orang tua. Yah, dia terbilang anak mami. Apa-apa Mami, apa-apa Papi, huuuft. Kadang aku suka kesal kalau dia udah berat ke orang tua ketimbang aku, pacarnya. Tapi aku memaklumi hal itu, Deva anak tunggal, satu-satunya pewaris kekayaan orang tuanya. Deva anak kongkomerat, wajar saja kalau dia sangat patuh sama apa kata orang tuanya. Jangan tanya kok kita bisa pacaran yah, karena aku sendiri juga binggung kenapa orang sekaya Deva mau jadian sama orang kere sepertiku.

Sebulan jadian, Deva mengajakku makan malam di rumahnya, dia ingin memperkenalkanku pada orang tuanya. Setiap perempuan yang jadi pacarnya wajib dikenalkan. Dia bilang, pandangan orang tua itu penting. Dan dia meyakinkanku bahwa orang tuanya pasti akan senang melihatku. Perempuan mana yang enggak senang kalau pacar orang tuanya akan senang dengan keberadaan kita. Aku enggak boleh ngecewain Deva yang udah berhati besar mengajakku untuk menemui orangtuanya. Aku enggak boleh bikin malu dia. Setelah pekerjaanku selesai, aku ke kamar mandi. Aku sudah membawa peralatan 'perang' dari rumah. Aku berdandan secantik-cantiknya. Sebenarnya bersolek itu bukan kebiasaanku, semua ini demi Deva. Aku mesti terlihat menawan di depan kedua orang tuanya.

Pukul enam sore, deva menjemputku di kantor. Dia sempat terbelalak melihatku, dia bilang aku cantik banget sore ini. Aduh, dipuji sama orang setampan Deva itu rasanya kayak terbang ke surga naik kuda sembrani. Tidak perlu di deskripsikan penampilan Deva sore ini, dia masih tetap seperti biasanya, berkharisma. Sebelum masuk ke mobil mewahnya, terlebih dahulu aku menghampiri bang Komar untuk mengambil Martabak yang sudah ku pesan beberapa menit yang lalu. Aroma Martabak yang masih hangat memang membuat perut lapar. Deva bilang harusnya aku enggak usah pesen Martabak segala, soalnya dirumahnya sudah banyak makanan. "Takut enggak kemakan aja, Ris," jelasnya. Aku tetep kekeh mau bawain Martabak, "Ya masa aku mesti ngembaliin Martabak yang sudah ku pesan," protesku. Dia cuma bilang, terserah kamu. Rasanya aku pengen nyuil sedikit martabaknya, aku sudah kelaparan, tapi kuurungkan niat ku. Apa kata orang tuanya kalau Martabaknya kecuil.

Deva memang anak konglomerat. Rumahnya saja besar sekali, ukurannya sekitar 5 kali rumahku. Mimpi apa aku semalam diajak ke istana megah ini. Deva membimbingku masuk ke rumahnya. Dia menyuruhku duduk di ruang keluarga. Aku pun duduk di sofa yang super empuk, kelihatannya sih sofa mahal. Banyak barang-barang antik dan mahal disini. Aku sampai tak berani dekat-dekat. Bukan apa-apa cuma takut rusak. Jantungku berdegup kencang saat suara orang tuanya mulai terdengar. Ketika orang tuanya sudah muncul dihadapanku, keringatku mengalir deras, kakiku lemas, jantungku berdetak lebih kencan lagi, dan rasanya aku mau pingsan. Deva memperkenalkanku pada kedua orang tuanya, kami pun berjabat tangan. Orang tua Deva cukup ramah, namun masih tercermin ego mereka yang tinggi. Dagunya itu loh, bikin orang-orang merasa kalo mereka memang terlahir untuk jadi manusia sombong dan angkuh. Dengan segera, aku memberikan bungkusan Martabak yang sudah agak dingin ini kepada mereka.
"Apa ini, nak?" tanya maminya padaku.
"Martabak tante," jawabku sambil tersenyum.
"Aduh, nak, kita ini punya diabetes sama kolesterol, jadi enggak boleh makan kue yang beginian," ungkapnya.
"Yasudah, kamu bawa pulang saja Martabaknya, dari pada disini enggak ada yang makan," sambung Papinya.
Waw, ada sentakan kencang di pipiku. Aku merasa seperti ditampar. mendengar pernyataan mami dan papinya Deva aku cuma tersenyum, lagi.
"Kan, tadi aku udah bilang, enggak usah dibawain Martabak," nada bicara Deva mulai meninggi, sepertinya dia agak kesal.
Tiba-tiba Deva menyalahkanku, keluarga macam apa ini?
Selama makan malam aku enggak mood untuk ngomong. Bukannya enggak mau ngomong tapi emang enggak diberi kesempatan untuk berbicara. Aku hanya jadi kambing congek yang mendengar Deva dan kedua orang tuanya berceloteh, menceritakan keadaan hari ini, memamerkan kemajuan pesat yang dialami perusahaan papinya. Mereka mungkin tidak menyadari kalau aku ada. Ternyata keluarga Deva tidak seramah keluargaku yang langsung jatuh hati pada om cuma karena dia bawa Martabak.

Dua hari kemudian, Deva memutuskan hubungan kami. Kisah cinta yang hanya berjalan sebulan lebih dua hari ini berakhir hanya karena orang tuanya tidak menyukaiku. Ingin sekali aku bertemu dengan Deva dan mencabik-cabik wajahnya, menendang kemaluannya, namun apa daya aku sudah muak dengannya. Bisa-bisa kalau ketemu dia sebelum aku bertindak, aku sudah muntah duluan. Aku enggak sedih, aku malah bersyukur tidak menjadi bagian dari keluarga mereka, keluarga kaya raya yang sombong. Rupanya cerita manis Om ku tidak berhasil aku terapkan dalam kehidupanku sendiri.

"Nih neng Risa, martabak keju cokelatnya," sahut Bang Komar yang sekaligus membuyarkan ingatanku tentang Deva.

Dan....setiap makan Martabak......
Aku seperti membanyangkan sedang memakan Deva dan kedua orang tuanya hahahahha.

@dee_tary
Diberdayakan oleh Blogger.