"Bang, pesen martabak keju cokelatnya satu yah, yang garing," pesanku pada bang Komar, penjual Martabak langgananku.
Aku paling suka Martabak, apalagi yang rasa keju. Kue asal Mesir ini menjadi favoritku sejak aku berumur 4 tahun. Awal mula aku kenal kue ini juga dari Om ku. Jadi, dulu sebelum Tante --adik dari ibu- menikah dengan Om, Dia selalu membelikan Martabak Keju kalo lagi ngapelin Tante. Samar-samar kuingat, untuk pertama kalinya Tante mengenalkan pacarnya ke nenek. Om membawakan Martabak Spesial isi keju. Bukan hanya tante yang dibuat jatuh hati sama Om, tapi nenek juga, malah ibu juga ikut jatuh hati sama tingkah lakunya. Om dengan manisnya juga membuatku jatuh hati, dia memberikanku Martabak itu. Semenjak Om menyuapkan Martabak ke mulut mungil ini, aku langsung jatuh cinta sama kue berbentuk lingkaran, bertekstur lembut dan crispy dibagian pinggir ini. Martabak manis, seperti aku yang manis hehe. Setelah Tante dan Om menikah, tepatnya saat aku berusia enam tahun, Om jadi jarang membelikan Martabak, soalnya Tante sudah tidak tinggal sama Nenek lagi, dia tinggal sama Om dirumahnya. Aku, Ibu, Ayah, dan kedua adikku masih tinggal di rumah Nenek. Paling-paling kalau Om dan Tante berkunjung ke rumah Nenek aja, baru deh dia membelikan Martabak.
Martabaklah yang membuat Om disukai Nenek dan keluarga kami. Martabak juga yang membuat aku merasakan yang namanya kue manis, legit untuk pertama kalinya. Martabak jugalah yang membuat penjual Martabak disebelah Kantorku jadi selalu ku beli dagangannya. Martabaklah yang membuatku berfikir kalau aku punya pacar, aku akan seperti Om, membawakan Martabak spesial untuk calon mertua ku ehehhhe. Dan martabak pulalah yang membuatku sadar bahwa hidup enggak selalu manis.
Beberapa bulan lalu saya akhirnya punya pacar, namanya Deva. Dia temannya teman kantorku, kami berkenalan di tengah acara resepsi pernikahan temanku. Hanya butuh waktu satu bulan untuk pendekatan, lalu kami pacaran. Dia adalah lelaki yang baik, ganteng, cerdas, berkharisma, dan nurut banget apa kata orang tua. Yah, dia terbilang anak mami. Apa-apa Mami, apa-apa Papi, huuuft. Kadang aku suka kesal kalau dia udah berat ke orang tua ketimbang aku, pacarnya. Tapi aku memaklumi hal itu, Deva anak tunggal, satu-satunya pewaris kekayaan orang tuanya. Deva anak kongkomerat, wajar saja kalau dia sangat patuh sama apa kata orang tuanya. Jangan tanya kok kita bisa pacaran yah, karena aku sendiri juga binggung kenapa orang sekaya Deva mau jadian sama orang kere sepertiku.
Sebulan jadian, Deva mengajakku makan malam di rumahnya, dia ingin memperkenalkanku pada orang tuanya. Setiap perempuan yang jadi pacarnya wajib dikenalkan. Dia bilang, pandangan orang tua itu penting. Dan dia meyakinkanku bahwa orang tuanya pasti akan senang melihatku. Perempuan mana yang enggak senang kalau pacar orang tuanya akan senang dengan keberadaan kita. Aku enggak boleh ngecewain Deva yang udah berhati besar mengajakku untuk menemui orangtuanya. Aku enggak boleh bikin malu dia. Setelah pekerjaanku selesai, aku ke kamar mandi. Aku sudah membawa peralatan 'perang' dari rumah. Aku berdandan secantik-cantiknya. Sebenarnya bersolek itu bukan kebiasaanku, semua ini demi Deva. Aku mesti terlihat menawan di depan kedua orang tuanya.
Pukul enam sore, deva menjemputku di kantor. Dia sempat terbelalak melihatku, dia bilang aku cantik banget sore ini. Aduh, dipuji sama orang setampan Deva itu rasanya kayak terbang ke surga naik kuda sembrani. Tidak perlu di deskripsikan penampilan Deva sore ini, dia masih tetap seperti biasanya, berkharisma. Sebelum masuk ke mobil mewahnya, terlebih dahulu aku menghampiri bang Komar untuk mengambil Martabak yang sudah ku pesan beberapa menit yang lalu. Aroma Martabak yang masih hangat memang membuat perut lapar. Deva bilang harusnya aku enggak usah pesen Martabak segala, soalnya dirumahnya sudah banyak makanan. "Takut enggak kemakan aja, Ris," jelasnya. Aku tetep kekeh mau bawain Martabak, "Ya masa aku mesti ngembaliin Martabak yang sudah ku pesan," protesku. Dia cuma bilang, terserah kamu. Rasanya aku pengen nyuil sedikit martabaknya, aku sudah kelaparan, tapi kuurungkan niat ku. Apa kata orang tuanya kalau Martabaknya kecuil.
Deva memang anak konglomerat. Rumahnya saja besar sekali, ukurannya sekitar 5 kali rumahku. Mimpi apa aku semalam diajak ke istana megah ini. Deva membimbingku masuk ke rumahnya. Dia menyuruhku duduk di ruang keluarga. Aku pun duduk di sofa yang super empuk, kelihatannya sih sofa mahal. Banyak barang-barang antik dan mahal disini. Aku sampai tak berani dekat-dekat. Bukan apa-apa cuma takut rusak. Jantungku berdegup kencang saat suara orang tuanya mulai terdengar. Ketika orang tuanya sudah muncul dihadapanku, keringatku mengalir deras, kakiku lemas, jantungku berdetak lebih kencan lagi, dan rasanya aku mau pingsan. Deva memperkenalkanku pada kedua orang tuanya, kami pun berjabat tangan. Orang tua Deva cukup ramah, namun masih tercermin ego mereka yang tinggi. Dagunya itu loh, bikin orang-orang merasa kalo mereka memang terlahir untuk jadi manusia sombong dan angkuh. Dengan segera, aku memberikan bungkusan Martabak yang sudah agak dingin ini kepada mereka.
"Apa ini, nak?" tanya maminya padaku.
"Martabak tante," jawabku sambil tersenyum.
"Aduh, nak, kita ini punya diabetes sama kolesterol, jadi enggak boleh makan kue yang beginian," ungkapnya.
"Yasudah, kamu bawa pulang saja Martabaknya, dari pada disini enggak ada yang makan," sambung Papinya.
Waw, ada sentakan kencang di pipiku. Aku merasa seperti ditampar. mendengar pernyataan mami dan papinya Deva aku cuma tersenyum, lagi.
"Kan, tadi aku udah bilang, enggak usah dibawain Martabak," nada bicara Deva mulai meninggi, sepertinya dia agak kesal.
Tiba-tiba Deva menyalahkanku, keluarga macam apa ini?
Selama makan malam aku enggak mood untuk ngomong. Bukannya enggak mau ngomong tapi emang enggak diberi kesempatan untuk berbicara. Aku hanya jadi kambing congek yang mendengar Deva dan kedua orang tuanya berceloteh, menceritakan keadaan hari ini, memamerkan kemajuan pesat yang dialami perusahaan papinya. Mereka mungkin tidak menyadari kalau aku ada. Ternyata keluarga Deva tidak seramah keluargaku yang langsung jatuh hati pada om cuma karena dia bawa Martabak.
Dua hari kemudian, Deva memutuskan hubungan kami. Kisah cinta yang hanya berjalan sebulan lebih dua hari ini berakhir hanya karena orang tuanya tidak menyukaiku. Ingin sekali aku bertemu dengan Deva dan mencabik-cabik wajahnya, menendang kemaluannya, namun apa daya aku sudah muak dengannya. Bisa-bisa kalau ketemu dia sebelum aku bertindak, aku sudah muntah duluan. Aku enggak sedih, aku malah bersyukur tidak menjadi bagian dari keluarga mereka, keluarga kaya raya yang sombong. Rupanya cerita manis Om ku tidak berhasil aku terapkan dalam kehidupanku sendiri.
"Nih neng Risa, martabak keju cokelatnya," sahut Bang Komar yang sekaligus membuyarkan ingatanku tentang Deva.
Dan....setiap makan Martabak......
Aku seperti membanyangkan sedang memakan Deva dan kedua orang tuanya hahahahha.
@dee_tary


