Mainan Rere



Rere suka sekali membeli mainan. Mulai dari Barbie sampai lego Rere memilikinya. Setiap bulan ia akan meminta ibu membelikannya mainan baru. Jika ibu menolak permintaan Rere, ia pasti akan merengek sepanjang hari sampai ibu membelikannya mainan. Ibu pusing sekali melihat mainan Rere yang semakin lama semakin menumpuk dan tersebar disegala penjuru ruangan.

Pernah suatu kali ibu membuang beberapa mainan yang sudah tidak pernah Rere sentuh lagi. Rere yang mengetahui beberapa mainannya berada di tempat sampah langsung mengambilnya kembali.
“Bu, kok mainan Rere dibuang sih?” protes Rere
“Itu kan mainan sudah rusak Re, daripada menuh-menuhin tempat yah Ibu buang saja,” jelas Ibu.
“Tapi kan ini mainan kesayangan Rere, pokoknya kalau Ibu membuang mainan Rere lagi, Rere enggak mau sekolah,” ancam Rere.
“Kalau mainannya enggak mau dibuang, ya Rere beresin donk, jangan malah tersebar dimana-mana,” seru ibu sedikit kesal.

Rere tidak pernah mendengarkan ucapan ibu, ia tetap tidak mau membereskan mainannya. Rupanya ibu juga sudah lelah menasihati putri cantiknya itu jadi ia biarkan saja Rere bermain sesuka hati dengan mainan-mainannya.

Sampai pada suatu hari ketika Rere sedang asik bermain barbie, ia tak sengaja menginjak lego dan ia pun jatuh tersungkur. Kening Rere membentur kaki meja, “Ibuuu,” jerit Rere. Ibu yang mendengar jeritan Rere langsung berlari menghampiri anaknya. “Ya ampun Rere, kamu kenapa?” ujar ibu melihat Rere sedang kesakitan.
“Keningku terbentur kursi bu,” gumam Rere sambil menangis.
“Coba sini ibu lihat,” pinta ibu, “Aduh sampai biru begini kening kamu, Re! sini biar ibu kompres dengan air dingin,”

Luka yang ada di kening Rere memang tidak begitu parah, namun membuat keningnya agak sedikit kebiru-biruan dan benjol. Rere takut sekali kalau sampai besok pagi benjolan yang ada dikeningnya belum mengempis, pasti teman-teman disekolah akan menertawakannya.

“Bu, kalau sampai besok benjol Rere belum sembuh, Rere ijin ya sekolahnya?” pinta Rere sambil mengelus-elus keningnya.
“Lho, bukannya besok Rere ada ulangan Matematika?”
“Oh, iya bu Rere lupa!”
“Kalau begitu berjanjilah jika besok benjol pagi benjolnya sudah mengempis, Rere akan membereskan semua mainan Rere dan membuang mainan yang tidak terpakai, bagaimana?”
“Baik Bu, Rere janji,”

Esok hari, doa Rere terkabul. Benjolnya sudah mulai mengempis namun masih agak sedikit terlihat memar. Rere tidak perlu takut ditertawakan teman-temannya. Sebelum berangkat ke sekolah Ibu ngengingatkan kembali akan janji Rere kemarin. Rere berjanji sepulang sekolah ia akan membereskan mainannya.

Saat jam pelajaran Ibu anita dimulai, beliau memberitahukan bahwa Andi dan beberapa siswa di kelas lain sedang terkena musibah. Rumah mereka terendam banjir setinggi pinggul orang dewasa. “Bagi anak-anakku disini yang tidak terkena musibah banjir, ibu mengharapkan bantuan kalian untuk meringankan beban mereka, kalian bisa menyumbangkan makanan, pakaian, atau uang semampu kalian,” ungkap Ibu Anita. Rere sangat iba mendengar kabar tersebut, ia berniat akan membantu menyumbang tetapi ia masih bingung hendak menyumbang apa.

Pulang sekolah Rere tidak lupa dengan janjinya untuk membereskan mainan. Ibu senang sekali melihat rumahnya menjadi bersih terlebih melihat anaknya menjadi rajin. Rere memisakan mainan menjadi dua bagian, mana yang masih ingin disimpan dan mana yang akan dibuang. Ternyata mainan yang akan dibuang jauh lebih banyak dibandingkan mainan yang disimpan.
“Bu, mainan yang akan Rere buang banyak juga ya? Sayang kalau dibuang begitu saja,” gumam Rere bersedih hati.
“Ibu punya ide, kenapa tidak kita jual saja mainannya kepada tukang rongsokan?” seru Ibu, “nanti uangnya bisa disumbangkan ke teman-teman Rere yang terkena musibah banjir.”
“Wah, ide bagus Bu, daripada dibuang sia-sia lebih baik dijual lagi ya Bu,” ujar Rere senang.
“Iya, setidaknya walaupun sudah tidak terpakai tetapi masih bisa berguna untuk orang lain,” tambah Ibu.

Sejak saat itu Rere tidak pernah lagi membuat mainannya berceceran dimana-mana. Setelah selesai bermain ia langsung membereskan mainanya lagi. Rere tidak mau keningnya benjol lagi karena tersandung mainannya sendiri.

Telah diterbitkan di Majalah Just For Kids Edisi 17

Keluarga Rubah dan Anak Burung


Di sebuah desa yang kaya akan hasil alamnya, terdapat sepasang rubah yang sudah lama menikah namun tidak dikaruniai anak. Mereka sudah lama mendiami desa tersebut bersama dengan masyarakat yang lain. Keluarga rubah tersebut hidup sangat sederhana, mereka merupakan keluarga yang penuh cinta kasih. Mereka sangat senang apabila ada anak tetangga yang main kerumahnya. Bapak dan Ibu Rubah akan menyediakan banyak makanan untuk anak-anak yang berkunjung kerumahnya. Maka dari itu, walaupun mereka tidak memiliki anak namun mereka tetap merasa memiliki anak sediri.  

Bapak Rubah sehari-hari bekerja diladang jagung milik Bapak Beruang, sedangkan Ibu Rubah setiap pagi berjualan di pasar, dan siang hari pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar untuk memasak.  

Pada suatu hari, saat Ibu Rubah mencari kayu bakar di hutan, ia mendengar suara kesakitan. Dengan perasaan agak sedikit ketakutan, Ibu Rubah mendekati sumber suara tersebut. “Toloong, sayapku patah!!” ucap suara tersebut.  Suara itu memang semakin dekat, namun Ibu Rubah belum menemukan asalnya.  

“Toloong aku!” suara itu kembali membuat Ibu Rubah mengernyitkan dahi, namun kali ini suara itu semakin melemah. “Hei, kamu ada dimana? Aku ingin menolongmu!” seru Ibu Rubah yang sudah mulai cemas. “Aku ada di dekat kakimu, Bu” ujar suara tersebut. Sontak Ibu Rubah menunduk ke bawah, betapa terkejutnya ia melihat ada seekor anak burung kutilang sedang berbaring lemah tak berdaya karena sayapnya penuh darah. 

Ibu Rubah segera meletakkan kayu bakar di tanah dan menggendong anak burung tersebut. Lalu ia membawa anak burung tersebut ke rumahnya.  

Ibu Rubah segera meletakkan anak burung tersebut di tempat tidur, dan membasuh sayapnya dengan air hangat. “Aduh, sakit sekali Bu,” desah anak burung sambil menangis. “Ibu, aku mau pulang”  

“Kamu tidak bisa pulang dalam keadaan sayap terluka begini, nak!” seru Ibu Rubah, “biar Ibu obati lukamu dulu ya?”. Anak burung kutilang pun menganggukan kepala dan berhenti menangis. Setelah sayap anak burung dibalut perban, Ibu Rubah menyuguhkan semangkuk bubur gandum. Dengan sabar Ibu Rubah menyuapi anak burung kutilang tersebut.  

“Nak, siapa namamu?” tanya Ibu Rubah.  
“Namaku Chiko, Bu!” jawab anak burung  itu.  
“Tok tok tok,” terdengar ada yang mengetuk pintu.  

“Sepertinya suamiku sudah pulang, Ibu bukakan pintu dulu ya!” Ibu Rubah segera membukakan pintu teryata Bapak Rubah sudah pulang dari Ladang. Ibu Rubah lalu menceritakan apa yang dialaminya saat mencari kayu bakar di hutan. Bapak Rubah segera menemui Chiko, raut wajahnya begitu sendu melihat keadaan Chiko terbaring lemah tak berdaya.  
“Nak Chiko mengapa sayapmu bisa terluka?” tanya Bapak Rubah.  
“Begini Pak, saat aku sedang asik terbang mengelilingi hutan, ada seekor musang mencoba memburuku, ia menembakkan senapannya ke arahku, dan sayapku terkena pelurunya, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh, untung saja Ibu Rubah segera datang menolongku,” ujar Chiko.  
“Chiko, bagaimana kalau kamu tinggal disini dulu sampai sayapmu benar-benar pulih?” pinta Bapak Rubah.  
“Apa tidak merepotkan, Pak?” gumam Chiko.  
“Tentu saja tidak, kami justru senang jika kamu betah disini, nanti kalau kamu sudah sembuh kami akan mengantarkanmu ke hutan tempat keluargamu berada,” ujar Bapak Rubah, Chiko menyetujui permintaan Bapak Rubah.  
Selama tinggal di rumah Bapak dan Ibu Rubah, Chiko sudah dianggap seperti anak mereka sendiri. Chiko senang bisa mengenal keluarga rubah yang baik hati tersebut. Tanpa terasa, semakin hari sayap Chiko berangsur membaik. Ia mulai belajar untuk mengepakkan sayapnya. Bapak dan Ibu Rubah sangat senang melihat keadaan Chiko.  

Sebagai wujud rasa terima kasih Chiko kepada keluarga rubah yang telah merawatnya hingga pulih, Chiko ikut membantu Bapak Rubah bekerja di Ladang atau membantu Ibu Rubah berjualan di pasar.  

Kini sudah genap dua bulan Chiko tinggal di rumah keluarga rubah, Bapak Rubah ingat janjinya dulu akan mengantarkan Chiko kembali ke keluarganya jika keadaan Chiko sudah pulih. Awalnya Chiko tidak mau berpisah dari mereka, namun Bapak Rubah selalu mengingatkan Chiko bahwa keluarganya juga pasti sangat cemas memikirkan anaknya yang tidak kunjung pulang. 

Keesokan harinya, Bapak dan Ibu Rubah mengantarkan Chiko ke hutan. “Rumahku ada di balik bukit besar itu, Pak!” seru Chiko. “Baiklah kalau begitu, kami hanya mengantarkanmu sampai disini saja, sekarang temuilah keluargamu, mereka pasti sudah merindukanmu,” ujar Bapak Rubah.  

Chiko lalu berpamitan kepada keduanya, Ibu Rubah tak berhenti menangis, ia sedih harus berpisah dengan Chiko yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. “Bapak dan Ibu Rubah, jika aku merindukan kalian bolehkah aku mampir ke rumah kalian?” ujar Chiko sambil menyeka air matanya. “Tentu saja nak, rumah kami rumahmu juga, kapanpun kamu mau kamu bisa mampir kerumah kami,” kata Bapak Rubah sendu. Chiko mencium kening Bapak dan Ibu Rubah sebelum akhirnya terbang menuju ke balik bukit. Chiko berjanji suatu hari akan kembali untuk mengunjungi keluarga rubah yang penuh cinta kasih tersebut.




Diberdayakan oleh Blogger.